Tetap Mesra di Kala Haidh (3-Tamat)

Muslim-couple-480x333

Muslimahzone.com – Pada bagian ketiga atau bagian terakhir dari tulisan ini, insya Allah kami akan menyalin tulisan terakhir Dr Muslim Muhammad Al-Yusuf dalam buku beliau “Tetap Mesra Saat Darurat “ pada pembahasan masalah bermesraan di daerah bawah pusar dan di atas lutut. Yaitu menilik pada Pendapat Ketiga dan Tarjih dari semua pendapat diatas. Semoga bermanfaat.

Pendapat Ketiga

Boleh Bagi Lelaki yang Wara’ dan Lemah Syahwatnya Bermesraan dengan Istri yang Haid dan Nifas di Daerah Bawah Pusar dan Atas Lutut Selain di Kemaluan

Para ulama yang berpendapat demikian berlandaskan dalil-dalil berikut ini:

Pertama,

dalil dari Al-Quranul Karim. Firman Allah Ta ‘ala, “…Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…” (Al-Baqarah 2: 222). Sisi pengambilan dalil dari ayat ini adalah bahwa kata al-mahidh merupakan isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat) dari kata haid. Maka, dikhususkannya tempat darah (kemaluan) agar dijauhi merupakan dalil dibolehkannya bermesraan di daerah bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan bagi laki-laki yang wara’ dan lemah syahwatnya.

Kedua,

dalil dari sunnah Nabi yang mulia, yakni antara lain, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang mulia,

“Lakukanlah segala sesuatu kecuali nikah (jimak).”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata,

“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di masjid, beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, ambilkan bajuku!’ ‘Aku sedang haid, jawab Aisyah. Mendengar jawaban itu, beliau pun bersabda, ‘Sesungguhnya haidmu tidaklah berada di tanganmu’ Akhirnya, Aisyah mengambilkan baju itu.”

Dari Jabir bin Shubh: Aku mendengar Khilas Al-Hajari berkata: Aku mendengar Aisyah berkata,

 ”Aku dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bermalam dalam satu kain sarung, padahal aku sedang haid. Jika tubuh beliau terkena sedikit darah haid dariku, maka beliau mencuci tempat yang terkena darah haid itu dan tidak melampauinya (yakni hanya mencuci tempat yang terkena darah haid itu saja, tidak lebih, -penerj.), kemudian beliau shalat dalam keadaan demikian. Dan, jika baju beliau terkena sedikit darah haid, maka beliau mencuci tempat yang terkena darah haid itu dan tidak melampauinya, kemudian beliau shalat dengannya.”

Sisi pengambilan dalil dari hadits-hadits ini adalah bahwa secara tersirat semua hadits ini menunjukkan bolehnya seorang suami yang wara’ dan lemah syahwatnya bermesraan dengan istrinya yang sedang haid di daerah bawah kain sarung, yaitu di antara pusar dan atas lutut, selain di kemaluan.

Abul Abbas Al-Bashri dari kalangan madzhab Syafi’iyah berpendapat, bahwa bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan adalah mubah (boleh) bagi laki-laki yang wara’ dan lemah syahwatnya, yakni yang mampu mengendalikan dirinya. Pasalnya, sisi pengambilan dalil dari ayat,”.. .Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…”, adalah bahwa kata al-mahidh merupakan isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat) dari kata haid. Maka, dikhususkannya tempat darah (kemaluan) agar dijauhi merupakan dalil dibolehkannya bermesraan di daerah bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan, bagi laki-laki yang wara’ dan lemah syahwatnya. Karena, orang yang sangat wara’ dan lemah syahwatnya itu tidak mungkin akan terjerumus ke dalam hal-hal yang dilarang.

Para ulama yang tak sependapat dengan ijtihad ini menyanggah, bahwa sesungguhnya makna firman Allah Ta’ala, “…Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid…”, adalah menjauhi daerah bawah kain sarung (yakni daerah sekitar kemaluan, -penerj.), baik bagi para suami yang wara’ maupun tidak wara’, yang lemah syahwatnya maupun yang kuat syahwatnya. Sebab, daerah antara pusar dan lutut itu termasuk daerah terlarang dari kemaluan wanita. Dan, bermesraan di daerah terlarang itu akan memicu untuk melakukan jimak. Hal ini sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar daerah terlarang, maka dikhawatirkan ia akan masuk di dalamnya, dan melakukan jimak yang terlarang.

Namun, bantahan tersebut juga disanggah, bahwa sesungguhnya toleransi bagi suami mana saja untuk bermesraan di daerah ini memang masuk dalam kandungan larangan hadits tersebut. Hanya saja, seorang yang wara’ dan lemah syahwatnya itu tidak mungkin akan terjerumus ke dalam hal-hal yang dilarang, karena kewara’annya, atau karena lemah syahwatnya dan penguasaan dirinya. Wallahu a’lam.

Tarjih dari Semua Pendapat:

Pendapat ketiga yang membolehkan bermesraan dengan istri yang sedang haid dan nifas di daerah bawah pusar dan atas lutut selain di kemaluan bagi suami yang wara’ dan lemah syahwatnya adalah pendapat yang paling rajih. Ini berdasarkan dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Qiiran dan hadits-hadits yang mulia, yang menunjukkan bolehnya seorang suami yang wara’ dan lemah syahwatnya (dapat menguasai dirinya) bermesraan dengan istrinya yang sedang haid dan nifas di daerah bawah kain sarung, yakni antara pusar dan atas lutut, selain di kemaluan. Wallahu a’lam.

Di salin dari buku: “Tetap Mesra Saat Darurat” , Dr. Muslim Muhammad Al-Yusuf, Penerbit Zam-Zam, Solo.Cet 1 – 2008, hal: 58-74

(muslimahzone.com)

Tags: ,

Leave a Reply

BANDUNG, 12/5 - OKI SETIANA DEWI. Artis dan Penulis Oki Setiana Dewi menjawab pertanyaan para penggemarnya pada acara Meet and Great pada "Islamic Book Fair 2012" (IBF) yang diselenggarakan IKAPI Jawa Barat, Bandung, Sabtu (12/5). Selain berdiskusi persoalan keseharian, sebagai pemain film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) Oki Setiana Dewi membahas pula bukunya yang berjudul "Sejuta Pelangi". FOTO ANTARA/Agus Bebeng/ss/ama/12.
Klarifikasi Oki Setiana Dewi Terkait Berita Miring Seputar Dakwahnya
musa hafidz cilik
Meski Menjadi Peserta Terkecil, Musa Berhasil Meraih Juara 3 di Hifzil Qur’an Internasional
rumah-siyono
Trauma Serangan Densus 88, Murid RA Amanah Umah Mengira Tiang Kamera Wartawan Adalah Senjata
2-kids
TK Baru di Inggris Ajarkan Baca Al-Qur’an dan Mempelajari Islam
ramadhan
5 Bekal Sebelum Ramadhan
bunga layu
Zina Merajalela
puasa
Belum Qadha Puasa Saat Ramadhan Tiba
kesungguhan
Kesungguhan Menghadapi Ramadhan
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Modal Kita
futur
Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah
embun
Monyet dan Dendam
jembatan
Hikmah Di Balik Cobaan yang Belum Engkau Tahu
kupu2
Akhirnya Aku Jatuh Cinta pada Istriku
surat suami
Surat Dari Suami Untuk Para Istri
good
Jangan Tertipu Kecantikan atau Ketampanan dalam Memilih Pasangan
Gedung-Resepsi-Pernikahan
Ironi Dibalik Resepsi Pernikahan
Mendidik-Anak
Mendidik Anak Dengan Fithroh
like father like son
Anak Adalah Cerminan Diri Kita
berkata baik
Berkatalah yang Baik Atau Hendaklah Diam
keluarga-islami-2
Rumahku Madrasahku
alay
Era Gadget Ciptakan Generasi Alay, Generasi Lalai
book_pages_flower_mood
Menjadi Perempuan Berharga
love
Kenapa Remaja Saling Jatuh Cinta?
alat-make-up
Berhias, Takut Tak Laku?
kecoa
Kisah Inspiratif Tentang Seekor Kecoa
penghafal-quran
Jika Demikian, Akulah Seburuk-Buruk Penghafal Al-Qur’an
langit
Senyuman Langit
tahun-gajah-burung-ababil
Menunggu Allah Menurunkan ‘Burung Ababil”
sleeping-child
Posisi Tidur yang Tidak Diperbolehkan Rasulullah
Daun-Pepaya
Dibalik Pahitnya Daun Pepaya
es-batu
Cara Mudah Mengecilkan Pori-Pori Wajah
hidup
Menjaga Kesehatan Rahim Dengan Memilih Makanan
ibu-hamil-muda
Ini Tips Untuk Mengatasi Mual Saat Hamil
es-batu
Cara Mudah Mengecilkan Pori-Pori Wajah
bayi tidur nyenyak
Agar Bayi Bunda Tidur Nyenyak
Dapur-Bersih-dan-Sehat
Menjaga Dapur Agar Tetap Sehat
Resep-Pisang-Ijo
Bikin Pisang Ijo Sendiri Yuk!
roti nutela
Strawberry Nutella French Roll
Resep-bubur-jagung
Bubur Jagung Manis dan Gurih
Resep-bakwan-jamur-masakan-lezat
Bakwan Jamur Gurih Kriuuk