Sukses Berkarir Sebagai Ibu Rumah Tangga

Muslimahzone.com – Bagi kebanyakan orang, kesuksesan masih diukur dari keberhasilan mencapai punjak jabatan di kantor, perusahaan, lembaga pemerintahan, dan lain-lainnya yang terkait dengan materi. Cara pandang duniawi ini menggeser dan meremehkan profesi ibu rumah tangga. Kita dapati misalnya, seorang muslimah, ibu rumah tangga, berpendidikan tinggi merasa ‘rendah diri’ dan malu menjawab ketika temannya menanyakan profesinya. “Saya hanya seorang ibu rumah tangga”.

Bangga dan Terhormat

Bagi muslimah yang telah menentukan pilihannya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, seharusnya tidak perlu malu apalagi merasa rendah diri. Setinggi apapun gelar akademiknya, tetaplah karir sebagai ibu, tidak meruntuhkan kehormatannya. Kehormatan sejati itu terhormat di sisi Allah swt, bukan di hadapan manusia. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat:13).

Harta banyak, jabatan tinggi, intelektualitas tidak diragukan namun jika tidak menjadikan segala aktifitasnya untuk bertakwa pada-Nya, tidak akan bernilai apa-apa. Harta, jabatan dan keilmuan harusnya menjadi sarana yang sangat baik untuk mencapai derajat bertakwa. Harta, jabatan dan ilmu adalah amanah, sehingga harus digunakan dengan baik menurut apa yang diinginkan Allah.

Akhirat adalah tujuan utama, maka harus benar-benar dikejar. Allah swt berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron:133).

Ibu rumah tangga yang menjadikan akhirat, takwa atau Allah swt sebagai acuan, merupakan ibu rumah tangga idaman dan sangat terhormat. Karena itu, peran ibu tidak bisa diremehkan dalam pembangunan masyarakat. Keadaban masyarakat dibentuk secara mendasar dari keadaban rumah tangga. Sedangkan seorang ibu adalah salah satu penentu membangun adab anggota keluarganya, terutama anak-anaknya.

Ibu adalah manager dalam rumah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya” (HR. Bukhari).

Anak-anak yang cerdas, sholih, shalihah lahir dari didikan rumah yang baik. Sayyidah Fatimah al-Zahra’ juga tidak lahir kecuali seorang ibu yang hebat bernama Khadijah r.a. Imam Syafi’i, lahir dari seorang ibu yang shalihah dan cerdas dalam mendidik.

Karena menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi anak-anak, dan kualitas rumah tangga, maka tidak salah Rasulullah saw bersabda, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu”(HR. Ahmad). Hadis ini memiliki makna penting yaitu, posisi ibu sangat terhormat, kerja profesi ibu rumah tangga harus dikaitkan dang jannah sebagai tujuan. Karena itu, sangat tidak tepat jika seorang ibu merasa rendah diri dengan berkarir sebagai ibu rumah tangga, justru harus bangga karena profesi yang mulya di sisi-Nya.

Agar Menjadi Berkualitas

Masyarakat yang baik bermula dari rumah tangga yang baik. Rumah tangga yang baik sangat ditentukan kepintaran ibu mengelola anggota keluarga menjadi individu beradab. Dan kualitas ibu rumah tangga tergantung dari cara perpikirnya mengenai rumah tangga. Berikut ini tips agar ibu menjadi ibu rumah tangga yang berkualitas dan terhormat;

Pertama, Memiliki manajemen  waktu. Berbeda dengan pekerja  kantoran yang selalu diatur waktu, maka seorang ibu rumah tangga punya hak untuk  mengatur waktu kerjanya. Bos baginya adalah dirinya sendiri. Malas-rajin,  lambat-cekatannya, tergantung bagaimana dia dapat memanajemen waktunya secara  profesional. Memanfaatkan waktu secara optimal-efektif dan efisien. Kapan waktu yang tepat untuk berlibur, bermain, belajar dan mengaji. Waktu shalat berjamaah dan baca al-Qur’an untuk anak-anak harus di jadwal dengan baik. Semua harus direncakan sesuai porsinya.

Kedua, Mendidik diri. Ibu adalah seorang pendidik, maka ia harus memiliki wawasan ilmu yang cukup sebagai bekal menta’dib anak-anak. “Ibu adalah madrasah pertama”. Sebagai madrasah, maka sangat pantas jika ada seorang ibu berpendidikan doktor. Seorang master atau doktor tidaklah perlu malu berkarir menjadi ibu rumah tangga. Anggaplah kerja ini layaknya kerja kantor. Manajemen rumah profesional, tertib dan disiplin. Memiliki buku agenda kerja yang memiliki target-target baik. Mereka juga dapat gaji. Harus ditanamkan dalam hati, gaji itu Allah swt yang membayarnya. Sehingga, ‘gaji’ Allah patutlah dibanggakan, karena tiada tara jika dibandingkan gajinya manusia. Namun berpendidikan tidak harus berpendidikan tinggi. Wawasan bisa diperoleh tanpa kuliah, bahkan bisa jadi tidak kalah dengan bangku kuliah. Ikutlah majelis-majelis pengajian, atau majelis ilmu yang lain. Mungkin saja ilmu diambil dari mengikuti seminar-seminar. Hal itu bisa ditambah dengan wawasan yang diberi sang suami. Jadi ibu, harus pintar. Dan karir ibu rumah tangga itu sebenarnya karirnya muslimah yang pintar dan terhormat. Yang pasti, wawasan agama menjadi paling penting, terutama akidah.

Ketiga,Rajin membaca juga harus menjadi kebiasaan. Bagaimana mungkin anak-anak gemar baca jika ibunya malas membaca. Baik membaca buku maupun membaca al-Qur’an harus terjadwal dengan baik dan memiliki target. Ciptakan perpustakaan yang nyaman di rumah, agar anggota keluarga betah menikmati buku. Dengan membaca, seorang ibu tidak akan kalah wawasannya dengan para wanita-wanita di kantoran. Jik perlu di waktu luang anak-anak diajak ke toko buku, mendidik agar mencintai buku. Berkunjung ke pesantren atau ulama’ untuk menanamkan anak mencintai ilmu.

Oleh karena itu, kehormatan dan kesuksesan berkarir sebagai ibu rumah tangga, sebenarnya tidak hanya dengan berdiri sebagai guru/tutor bagi anaknya. Akan tetapi, secara praktis, ibu merupakan pengusung nilai-nilai keadaban dalam masyarakat kecil yang bernama keluarga. Yang diusung bukan nilai-nilai materialisme, tapi nilai-nilai mulia, nilai keadaban yang mengangkat derajat diri dan keluarganya kepada derajat terhormat di sisi Allah swt.  Jadi ibu, harus berpandangan hidup Islam (worldview of Islam).

Adapun muslimah yang bekerja di luar, boleh saja, namun jangan sampai mengabaikan tugas terhormat dan suci di keluarganya.

Oleh, Kholili Hasib

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Allah SWT ‘Menyadap’ Kita
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Cara Sederhana Membersihkan Tubuh Dari Racun
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin