Said bin Musayyib dan Putrinya

Muslimahzone.com – Said bin Musayyib adalah tokoh ulama paling terkemuka di Madinah pada masa tabi’in. Ia adalah menantu Abu Hurairah, perawi hadits Nabi (shalallahu ‘alaihi wa salam) yang terbanyak, dan ia memiliki seorang putri yang tidak hanya cantik jelita tapi juga seseorang yang dikenal baik akhlaknya, tinggi ilmunya, hafal Al Quran dan juga ribuan hadist Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Bagaimana tidak begitu jika dilihat dari siapa ibu dan bapaknya. Bukankah buah takkan jatuh jauh dari pohonnya?

Kecantikan dan kepandaian Fatimah, putri Said bin Musayyib, tersebar luas hingga membuat Sang Khalifah Abdul Malik bin Marwan meminangnya untuk dinikahkan dengan putra mahkota, Walid bin Abdul Malik. Namun siapa sangka lamaran itu ditolak Said begitu saja. Membuat beberapa orang menyangka bahwa mungkin putrinya akan menjadi perawan tua. Sebab jika putra khalifah saja ditolak, kira-kira siapa yang akan berani datang melamarnya? Siapa yang sekufu baginya? Siapa yang selevel dengannya?

Persangkaan itu tentu saja tidak tepat, sebab Said bin Musayyib menilai kufu bukanlah seperti apa yang disangka orang. Kufu dalam benak Said bukanlah materi, pangkat, dan kedudukan di mata manusia. Ia justru khawatir jika putrinya berada dalam kemewahan dunia, kelak ia takkan dapat lagi memaknai dunia sebagai tempat ujian, dan tak lagi menempatkan dunia sebagai ladang amal untuk dipetik hasilnya kelak di negeri akhirat. Pasangan hidup yang dicari Said buat anaknya adalah seorang laki-laki sederhana namun memiliki hati yang tersambung dengan Tuhannya. Berkehidupan dunia biasa-biasa saja namun beribadah di atas rata-rata manusia lainnya. Ia mencari seorang laki-laki yang bertakwa, yang ada Allah dalam hatinya, sehingga dapat mencegahnya dari berbuat dosa dan menyia-nyiakan hak manusia. Yang ada Allah dalam lisannya. Yang berpegang pada syariat Allah untuk dia tegakkan bagi dirinya dan keluarganya. Ada akhlak Nabi Muhammad dalam perilakunya sehari-hari. Dan sang ayah mendapati semua ini ada dalam diri salah seorang muridnya, Abu Wadaah namanya.

Mari kita dengar Abu Wadaah menceritakan sendiri kisahnya bersama sang guru besar Said bin Musayyib ini:

Bertahun aku berguru kepada Syaikh yang luar biasa itu. Aku mengagumi dan mencintainya, menjadikannya panutn dalam hidupku, cermin keistiqamahan dan ketakwaan. Tak pernah kutinggalkan majlisnya setiap sore di Masjid Nabawi sejak aku remaja, kecuali untuk urusan yang sangat darurat. Ya, aku selalu menghadiri masjidnya hingga hari duka itu terjadi. Istriku meninggal dunia setelah sakit parah beberapa hari saja. Kedukaan dan kesibukanku karenanya membuatku tak menghadiri majlis Syaikh Said kurang lebih selama dua mingguan. Sampai akhirnya semua urusan selesai dan aku telah berdamai dengan duka, hari itu aku kembali menghadiri majlis Syaikh-ku tersebut.

Selepas kajian dan orang bubar, Syaikh Said memanggilku. “Aku lama tak mendapatimu hadir di majlisku, kamu kemana?” tanyanya.

Akupun menyampaikan permohonan maaf sekaligus menceritakan berita duka itu. Beliau lama terdiam, lalu berkata, “Jadi sekarang kamu tak lagi memiliki istri?”

“Benar,” jawabku tanpa tahu ke arah mana maksud pertanyaan Syaik-ku itu.

“Jika begitu, maukah kamu aku nikahkan dengan putriku Fatimah?”

Aku terperangah tak percaya. Telah kudengar kabar bahwa putri Syaikh Said telah dilamar Khalifah untuk Walid, putra mahkotanya, dan Syaikh Said menolak. Bagaimana mungkin kini aku yang ditawari untuk menikahinya?

“Bagaimana wahai Abu Wadaah, adakah kamu menyetujuinya?”

Siapakah yang tidak mau menikah dengan putri Syaikh Said? Tentu itu adalah impian setiap laki-laki. Namun aku? Siapa aku? Hingga mendapatkan keberuntungan setinggi itu? Aku tidak tahu harus berpikir bagaimana kala itu namun kuanggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan sang Syaikh.

“Apakah kamu punya uang?” Syaikh Said kembali mengajukan pertanyaan, yang kembali tak kupahami arahnya. Namun, aku keluarkan juga uang dari sakuku, yang hanya sejumlah dua dirham itu.

Beliau lalu melihat sekeliling dan memanggil dua orang yang tengah membaca Al Quran. “Aku akan menjadikan kalian berdua sebagai saksi pernikahan anakku dengan pemuda ini.” Mereka mengangguk.

Beliau lalu mengucap hamdalah, shalawat, dan khutbah nikah yang sangat singkat. Lantas, sambil menggenggam tanganku, beliau berkata, “Aku nikahkan kamu wahai Abu Wadaah dengan putriku Fatimah, dengan mas kawin uang dua dirham, tunai.”

Dan aku menjawb dengan tergagap, “Aku terima nikahnya dengan mas kawin yang telah disebutkan.”

Beliau lalu menutup majlis yang singkat tersebut dengan doa, kemudian kami pun berpisah.

Aku pulang sambil berusaha mencerna apa yang telah terjadi. Adakah aku sekarang telah beristri? Dan istriku adalah putri Syaikh Said bin Musayyib? Aku tetap tak dapat percaya. Adakah aku bermimpi?

Hari itu hari kamis dan aku berpuasa. Sesudah shalat maghrib di masjid aku bergegas pulang untuk makan malam. Saat sedang mempersiapkan makanan di meja, aku mendengar suara ketukan pintu.

“Siapa?” tanyaku.

“Said,” jawab suara itu.

Sungguh telah kubayangkan semua Said yang kukenal di kampungku.Namun tidak kubayangkan bahwa yang datang adalah Syaikh Said, guruku. Karena, yang kami ketahui, dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun, tak ada tempat yang didatangi guruku itu selain rumahnya dan masjid. Aku membuka pintu dan mendapati beliau di sana.

“Maafkan aku Syaikh. Apa gerangan yang membuat Engkau sampai datang ke rumahku? Jika Engkau membutuhkan sesuatu dariku sebenarnya cukup utuskan saja seseorang untuk memanggilku, maka aku akan segera datang untuk menemuimu.”

Beliau tersenyum dan berkata, “Justru maafkan aku wahai Abu Wadaah. Sepanjang sore ini aku berpikir bukankah anakku telah sah menjadi istrimu, dan bukankah ia yang seharusnya menyiapkan buka puasamu malam ini. Jadi aku datang kemari untuk menyerahkan putriku yang telah sah menjadi istrimu.” Beliau lantas memamnggil putrinya yang ternyata ada dibalik pintu.

Saat itulah wanita itu masuk ke rumahku, lalu ia membuka penutup wajahnya dan menunduk malu. Wajahnya memerah dan sungguh tak pernah kulihat seumur hidupku wanita yang lebih cantik darinya. Syaikh Said lantas berkata kepadanya, “Fatimah, ini adalah suamimu. Perlakukan ia seperti apa yang Allah perintahkan kepadamu. Jadilah istri yang baik baginya.”

Lantas beliau memandangku dan berkata, “Abu Wadaah, kuserahkan putriku kepadamu sebagai istri. Perlakukan ia sesuai dengan apa yang Allah perintahkan kepadamu. Semoga kalian berdua selalu berada dalam keberkahan.” Lalu beliau berpamitan dan meninggalkan putrinya bersamaku.

Aku salah tingkah dan tak tahu harus berbuat apa. Lalu aku persilakan ia duduk sementara aku naik ke loteng dan memanggil beberapa tetangga perempuanku untuk menemaninya sementara aku bergegas pergi menuju rumah ibuku.

Tetanggaku sempat menyangka aku gila karena ditinggal istriku, hingga berkhayal menikah dengan putri Sang Syaikh. Namun mereka menarik kembali persangkaan tersebut ketika mendapati putri Syaikh Said benar-benar berada di rumahku.

Ibuku juga begitu, ia sama tidak percayanya dengan mereka. Namun karena tahu aku tidak sedang mengada-ada, ia pun segera mengikutiku menuju rumahku. Di sepanjang jalan ia tak henti-hent berbicara, “Kita harus buatkan ia pesta yang meriah, Nak. Bagaimanapun, ia putri Sang Syaikh. Meskipun kamu duda, tapi dia itu, kan, perawan. Nanti Ibu akan menjual perhiasan Ibu untuk biaya pesta kalian. Kita harus undang si fulan, si fulanah. Nak, Nak..benar-benarbagus sekali nasibmu. Ibu tidak pernah menyangka..”

Hingga kami sampai di rumah, Ibu masih belum berhenti berbicara.

Demikian Abu Wadaah menceritakan kisahnya.

Inilah pernikahan yang indah. Perjodohan berlandaskan takwa. Tanpa pandang materi dan harta. Tak ada penyesalan pada keduanya, pun pada sang Ayah yang telah menjodohkan mereka. Tidak ada peyesalan di dunia, apalagi di akhirat. Sebab mereka semua memilih Allah dalam segala pilihan yang dunia suguhkan dalam kehidupan mereka.

Diambil dari buku Muhasabah Cinta Karya Ustadzah Halimah Alaydrus

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Allah SWT ‘Menyadap’ Kita
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Cara Sederhana Membersihkan Tubuh Dari Racun
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin