Menjadi Perempuan Berharga

book_pages_flower_mood

Muslimahzone.com – Perempuan adalah tiang negara. Kalimat ini mungkin sudah tak asing lagi bagi kamu semua. Di tangan perempuan, baik buruknya suatu negara ditentukan. Laki-laki baik akan mudah menjadi buruk oleh goda rayu seorang perempuan. Tentu selalu ada pengecualian, khususnya bagi laki-laki yang shalih maka bujuk rayu itu tak akan mempan. Tapi di sini kita berbicara tentang sesuatu secara umum. Contoh sederhana tentang kasus ini banyak di sekitar kita. Karena suatu negara itu miniaturnya ada pada institusi keluarga, maka yuk kita lihat cerminnya pada kejadian sehari-hari.

Di tangan ibu yang baik, seluruh keluarga bisa selamat dan menjadi contoh yang baik. Masih ingat kisah Asiyah binti Muzahim, istri Firaun? Suaminya durhaka terhadap Allah, tapi Asiyah mampu bertahan menjadi sosok yang salihah. Bahkan, di tangan perempuan inilah sosok Nabi Musa selamat atas izin Allah tentunya. Padahal pada saat itu, hampir semua bayi berjenis kelamin laki-laki dibunuh semua atas perintah Firaun.

Sebaliknya, banyak kisah para pejabat yang korupsi (mayoritas mereka adalah bapak-bapak) tak bisa dilepaskan dari peran istrinya juga. Perempuan yang selalu silau dengan harta menyebabkan laki-laki berusaha memenuhinya. Seandainya si istri adalah sosok shalihah, maka harta yang dibawa pulang suaminya, tak semata-mata ia terima dengan senang hati. Seharusnya ia waspada karena uang hasil korupsi berpotensi mencelakakan semuanya–di dunia, terlebih di akhirat kelak. Naudzubillah.

Nah, andai semua perempuan bersikap seperti ini, tentu tatanan masyarakat akan jauh lebih baik. Suami bekerja dengan tenang karena tidak terteror dengan permintaan istri yang iri dengan perhiasan tetangga. Anak pun tumbuh dengan baik karena dididik oleh sosok ibu teladan yang shalihah. Indah, bukan? Sosok shalihah seperti ini tak muncul secara sim salabim. Tapi ia hadir dengan pembinaan yang baik utamanya pemahaman keislaman yang baik pula. Sejak muda malah.

Yang muda yang hura-hura

Sebagian remaja mungkin berpikir bahwa belum saatnya mereka memikirkan masa depan. Mereka masih asik dengan dunia mereka yang tak jauh dari pacaran, window shopping alias jalan-jalan ke mal, hura-hura, pesta sana-sini dan dugem. Bila diajak serius berpikir tentang masa depan, utamanya hidup berumah tangga dan calon ibu, mereka pasti pada enggan. Anehnya, pacaran demen tapi serius menikah ogah. Inilah gambaran rusaknya kehidupan remaja kita yang maunya hura-hura tanpa disertai tanggung jawab.

Yang namanya pacaran, tak ada tanggung jawab menyertai. Bila terjadi perselisihan, mereka dengan enaknya bisa pulang ke rumah masing-masing atau putus dengan enteng. Toh, tak ada yang dirugikan. Begitu selalu yang menjadi dalih. Nah, kamu kaum cewek, jangan pernah mau diperlakukan seperti ini. Nilai dirimu itu jauh lebih berharga daripada dipacari dari satu cowok ke cowok yang lain. Bila memang benar mereka itu cowok sejati, minta mereka datang untuk meminangmu dan serius menikahimu. Bila menolak, itu artinya mereka hanya menjadikan kamu sebagai ‘tester’ saja. Ihh…naudzubillah minddzalik!

Kamu boleh muda, tapi itu tak secara serta-merta menjadikan kamu berhak untuk berhura-hura dan menyia-nyiakan hidupmu. Masa mudamu yang cuma sekali ini (eh, masa anak-anak dan masa tua juga sekali ya? Hehehe), adalah momen untuk menempa diri menjadi sosok muslimah berkualitas. Di tanganmulah nasib bangsa ini berada. Warna bangsa ini sepuluh tahun kelak, tergantung kamu akan mewarnainya dengan apa. Masa’ iya, negeri yang sudah porak poranda karena tingginya tingkat korupsi dan campur tangan luar negeri ini akan kamu biarkan terus begini? Kalau kamu masih terkategori muslimah yang punya iman dan nurani, pasti akan ada langkah berarti yang harus segera dilakukan untuk memutus rantai kebobrokan ini.

Menempa diri dengan Islam

Kebaikan itu hanya dengan Islam saja. Ini harus diyakini dengan sepenuh hati oleh para calon tonggak peradaban alias para muslimah. Sedari masih gadis, persiapan itu telah dilakukan. Bukan dengan berpacaran atau bertabaruj untuk menarik perhatian lawan jenis, melainkan dengan mengasah keimanan dan wawasan akan sosok istimewa ini.

Bila kamu berasal dari keluarga yang sudah terbasuh dengan Islam secara baik sejak kecil, maka bersyukurlah. Kamu hanya tinggal melanjutkan pembiasaan dari keluarga apa-apa yang baik itu. Tapi bila kamu mengenal Islam dengan baik baru di usia SMA atau bahkan kuliah, jangan berkecil hati. Tak pernah ada kata terlambat untuk perbaikan diri. Tekadkan dalam hatimu bahwa kamu ingin berubah dengan Islam saja sebagai tolok ukurnya.

Berubah untuk pertama kali itu tak mudah. Terapkan tombo ati yang ada lima perkaranya itu. Mulai dari membaca al-Quran plus maknanya. Akan jauh lebih baik bila kamu ‘berguru’ ke orang yang mumpuni dalam ilmu al-Quran. Ibarat baru belajar jalan, ada yang menuntun agar tidak tersesat. Lalu yang kedua adalah membiasakan salat malam atau tahajud. Berat memang kecuali bagi mereka yang benar-benar niat untuk mendekatkan diri pada Rabb-nya. Bila tak bisa setiap hari, mulailah dengan seminggu sekali, lalu dua kali seminggu. Begitu seterusnya hingga kamu konsisten untuk mendirikannya setiap malam.

Nah, yang ketiga adalah perbanyak zikir. Berzikir itu bukan hanya lisan tapi juga hati serta amalan. Maksudnya mulai dari mulut, hati dan perbuatan itu hanya hal-hal baik saja yang dilakukan. Keempat adalah, lakukan puasa sunah. Kalau puasa Ramadhan, sudah pasti dong ya. Kemudian yang terakhir serta yang penting adalah berkumpul dengan orang-orang yang shalih. Mereka inilah yang akan mengingatkanmu bila kamu futur (down) atau lalai.

Pahami hak dan kewajiban

Jadi muslimah itu  harus cerdas. Ini harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Muslimah cerdas itu adalah muslimah yang mengetahui hak dan kewajiban dirinya baik di hadapan manusia (suami, orang tua, tetangga, saudara, dll) ataupun di hadapan Allah. Karena itu muslimah wajib untuk paham hukum syara’ (syariat Islam). Dengan memahami hukum syara’, itu artinya muslimah telah menapakkan langkah untuk menjadi tonggak peradaban.

Tempa dirimu dengan hal-hal yang sekarang ini mulai dilupakan oleh para muslimah. Belajar memasak dengan membantu mama, misalnya. Tak usah yang ribet, cukup yang sederhana sekadar bisa membuatmu mandiri. Mencuci baju, terutama ‘daleman’. Banyak loh di kalangan muslimah yang ternyata tak bisa dan tak terbiasa mencuci ‘dalemannya’ sendiri. Bila pun terpaksa melakukan sendiri, maka itu bisa dibilang kurang bersih. Ingat wahai muslimah, kebersihan itu sebagian dari iman. Lagipula ini juga penting karena berkaitan dengan najis tidaknya pakaian dalam itu ketika kamu pakai.

Kamu boleh, bahkan harus berprestasi di bidang keilmuan. Tapi alangkah jauh lebih indah bila kamu tidak melupakan fitrahmu yang nantinya sebagai pengatur rumah tangga. Pendidikan anak-anakmu kelak ada di tanganmu. Apakah mereka akan menjadi anak salih dan salihah atau sebaliknya. Kualitas dirimu saat ini akan menentukan kualitas anak keturunanmu kelak. Sadar yuk sadar, Non!

Banyak di antara muslimah yang mengharuskan dirinya bekerja setelah capek-capek sekolah tinggi. Padahal tujuan sekolah itu sendiri bukanlah supaya kamu mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi. Kembalikan niatmu bahwa bersekolah dan menuntut ilmu itu adalah perintah Allah dalam rangka mencari ridho-Nya. Karena sungguh, Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan (silakan kamu baca al-Quran surat al-Mujaadilah ayat 11 ya!).

Allah telah memuliakan perempuan dengan tidak mewajibkannya menjadi pencari nafkah. Dengan kelembutannya, perempuan diberi amanah untuk mendidik anak-anak agar menjadi generasi Qurani. Di sinilah sebetulnya keberhasilan seorang perempuan itu dinilai. Bukan seberapa tinggi kedudukannya di kantor, bukan pula seberapa banyak gelar yang disandangnya. Namun sayang, banyak perempuan yang lupa. Gelombang emansipasi dan feminisme membuat muslimah lalai.

Finally…

Kemuliaan perempuan itu adalah ketika ia mempersiapkan dirinya untuk mengemban amanah sebagai tonggak peradaban. Kita rindu sosok-sosok seperti Shalahudin al-Ayubi, Muhammad al-Fatih, Usamah bin Zaid, Imam Bukhari, Imam Syafi’i dan banyak ulama dan ilmuwan lain. Mereka menjadi sosok yang mengguncang dunia bukan tanpa sebab. Di balik mereka ada sosok hebat bernama ibu. Tidak inginkah kita nantinya mempunyai anak-anak sekaliber mereka? Keren bin hebat banget tuh!

Saya ingin, sangat ingin. Bagaimana denganmu? Karena itu yuk, kita benahi diri kita sedari dini. Buatlah diri kita pantas untuk menerima amanah anak sehebat itu. Karena sesungguhnya kualiatas anak merupakan cerminan dari kualitas orang tuanya, terutama ibunya. Bila al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel yang begitu tangguh, bukan tak mungkin pintu kota Roma ada di tangan anak-anak kita kelak, insya Allah. Rasulullah saw. sendiri yang menjanjikan bahwa kota Roma menanti untuk kita taklukkan. Rasulullah saw. pernah ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul menjawab, ”Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel” (HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)

Sungguh, bekal apalagi yang kita rindukan selepas nyawa pergi dari tubuh kecuali anak-anak yang salih dan ilmu yang bermanfaat? Ketika remaja lain sibuk berhura-hura dan berbuat dosa, yuk kita juga sibuk menghadiri majelis ilmu dan menabung pahala. Yakinlah, ketika mereka nanti menangis karena anak-anaknya sulit diatur, kita akan tersenyum karena memiliki anak yang penurut terutama pada aturan Allah. Insya Allah. Semoga tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita semua. Yuk, mari kita terus berbenah!

Ria fariana

(gaulislam/muslimahzone.com)

No Responses

Leave a Reply

tito-karnavian
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
sosmed-dipantau
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
kin-4
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
jokowi-di-iran
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
menyadap
Allah SWT ‘Menyadap’ Kita
fardhukifayah
Level Fardhu Kifayah
menghina ulama
Hukum Menghina Ulama
risalah-islam
Kewajiban Mempelajari Al Qur’an
Rizki-Semut
Rizki di Tangan Allah
Bandul-Kehidupan
Pada Suatu Titik
empty_long_road_at_sunset-wide
Mencari Jalan Pulang
hoax
Republik Hoax
sepatu jodoh
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
istri 2
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
shaum
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
cinta_love
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
tauhid anak
Aku Peduli Iman Anakku
The sleeping boy
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
menghafal-alquran
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
gosok-gigi
Contoh Saja (Masih) Belum Cukup
cyber army 2
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
kamera
Jaga Aurat di Depan Kamera
selfie-muslimah
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
sosmedia
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
bani umayyah
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
isteri taat
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
wahyu alquran
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Muslim
Ikhtiar Pertama Apabila Seorang Muslim Sakit
air-mentimun
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
popok-bayi
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
nangka
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
minum
Cara Sederhana Membersihkan Tubuh Dari Racun
membaca-buku
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
cara-menyapih-anak
7 Tips Menyapih Anak
daging-kurban
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
menghafal
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
pangsit-kuah
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
resep-kue-ketan-isi-mangga
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
resep-lumpia
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
wedang-bajigur
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin