Mengilmui Sebelum Mendidik

mendidik

Muslimahzone.com – Apakah yang kita harapkan dari anak-anak kita? Apakah yang ingin kita petik dari upaya kita mendidik anak-anak? Umur belum tentu panjang. Begitu pula umur anak-anak kita. Tetapi yang pasti, kita semua akan mati dan menuju kehidupan abadi sesudah langit digulung dan bumi dilipat. Jika kita salah niat dalam mendidik anak, maka letih lelah kita mengasuh hanya menjadi kepayahan yang tidak membawa kebaikan sama sekali di akhirat. Apalagi jika niat salah, berpayah-payah pun enggan bersebab lebih menyukai jalan pintas yang instant.

Apakah yang kita rindui dari anak-anak kita? Penat berpeluh kita merawat dan mengasuh mereka, akan sia-sia tak berguna jika salah niat kita mendidik mereka, salah pula langkah kita dalam menjalankannya. Maka memperbaiki niat dan terus-menerus saling mengingatkan antara suami dan isteri sangat penting untuk menjaga arah. Juga, agar tidak mudah rontok tatkala menghadapi kesulitan dalam proses mendidik anak. Kita perlu ingat, setiap perjuangan memang memerlukan kesediaan untuk berpayah-payah. Bahkan kita kadang harus sakit. Tapi jika kita punya cita-cita kuat, sungguh sakit yang mendera badan itu akan lebih ringan kita rasakan di hati.

Ingatlah tidak ada kedewasaan yang bersifat instan. Tidak pula ada kesalehan yang instant. Itu pun, proses menuju ke sana tidak instant. Maka, mengapakah kita menginginkan perubahan yang terjadi dalam sekejap dalam mendidik anak-anak kita, padahal kita mengharapkan manfaatnya untuk masa yang sangat panjang?

Mari sejenak kita bertanya pada diri sendiri, atas berbagai hal yang kita lakukan terhadap anak, termasuk les yang kita berikan kepada anak-anak kita, sebenarnya untuk kepentingan mereka atau demi memuaskan keinginan kita?

Jadi, yang pertama perlu kita benahi dan senantiasa kita perbaiki adalah niat kita mendidik anak. Tak putus-putus kita berupaya menata niat kita, meluruskannya agar tidak salah arah. Kita kuatkan niat beriring dengan menjaga khasy-yah, yakni rasa takut kita kalau-kalau meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita sebagaimana Allah Ta’ala telah serukan di dalam al-Qur’an surat An-Nisaa’ [4] ayat 9:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Ini berarti, rasa takut yang menjadikan kita senantiasa berhati-hati merupakan bekal penting mendidik anak, lebih penting daripada pengetahuan kita tentang teknik berkomunikasi maupun cara mengajari anak membaca. Bukan saya menyepelekan manfaat mengajari anak membaca. Saya bahkan menulis buku berjudul Membuat Anak Gila Membaca. Tetapi sebelum itu semua, yang harus kita miliki adalah rasa takut; rasa khawatir tentang masa depan anak sepeninggal kita yang membuat kita selalu berbenah dan menambah bekal mendidik.

Nah.

Bakda niat yang terus perlu kita perbaiki dengan saling mengingatkan antara suami dan istri, hal berikutnya yang perlu kita pegangi adalah ikhlas dalam mendidik. Ikhlas sebenarnya merupakan bagian dari niat.

Apakah ikhlas itu? Melakukan amal dan ibadah semata-mata untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Meskipun merasa berat dengan kebaikan yang patut kita lakukan, tetapi jika kita tetap mengerjakannya demi untuk meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla, maka sesungguhnya itulah ikhlas.

Tetapi…

Keinginan saja tidak cukup. Kita dapat mengatakan bahwa jerih-payah kita mendidik anak hanyalah untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Tetapi apakah cara yang kita tempuh dalam mendidik anak? Adakah cara kita merupakan cara yang Allah Ta’ala ridhai; cara yang Allah Ta’ala sukai? Adakah cara itu bersesuaian dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah justru menyelisihinya? Inilah yang perlu kita telisik pada diri kita. Bagaimana kita akan mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla jika cara kita mendidik anak justru menyelisihi sunnah? Apalagi jika sampai nyata-nyata bertentangan dengan al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.

Ini berarti kita perlu berusaha untuk mengilmui tuntunan mendidik anak. Kita perlu berusaha membekali diri dengan ilmu sebelum Allah Ta’ala karuniai keturunan kepada kita. Bukan tidak boleh belajar psikologi maupun pengetahuan parenting lainnya, tetapi terlebih dahulu membekali diri dengan pemahaman terhadap tuntunan agama dan mengokohkan iltizam (komitmen) terhadapnya. Dan sekiranya kita belum membekali diri dengan tuntunan agama, maka sekarang inilah saatnya memperbaiki bekal ilmu kita.

Ini semua perlu kita lakukan agar langkah kita mendidik anak sejalan dengan niat. Sekali lagi, bagaimana kita akan mengatakan bahwa kita benar-benar ikhlas mendidik anak; benar-benar mencari ridha Allah Ta’ala sedangkan cara yang kita tempuh justru menyelisihi agama?

Jangan Keburu Berbangga Diri

Kita perlu terus membekali diri dengan ilmu sebelum mendidik seraya berusaha memperbaiki keadaan jiwa kita. Kitalah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala  atas pendidikan anak-anak kita. Karena itu, kitalah yang harus menyibukkan diri dengan mencari ilmu. Berbekal ilmu, kita akan lebih mudah mengasuh dan mendidik anak-anak kita.

Tetapi, setiap keberhasilan dalam mendidik yang kita patut bersyukur dengannya, janganlah menggelincirkan kita ke dalam ‘ujub (berbangga diri). Sebanyak apa pun ilmu yang telah kita kuasai, sungguh hanya Allah Ta’ala Yang Menggenggam Jiwa Manusia. Kepada-Nya kita meminta dan memohon pertolongan, termasuk untuk kebaikan anak-anak kita. Ingatlah, sesungguhnya ‘ujub termasuk satu dari tiga perkara yang membinasakan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tiga perkara yang membinasakan: sifat suh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya.” (Silsilah Shahihah, no. 1802)

Betapapun anak-anak kita tampak baik dan cemerlang prestasinya, andaikan begitu, tetap saja kita perlu senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala dan menjaga diri kita dari berlepas diri terhadap Allah Ta’ala bersebab demikian pekatnya ‘ujub menutupi diri kita.

Marilah sejenak kita ingat doa yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW:

“Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun hanya sekejap mata. Dan perbaikilah seluruh keadaanku. Tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Engkau.” Doa dari Hadits sahih riwayat Abu Dawud.

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat. Kepada Allah Ta’ala kita meminta pertolongan. Semoga Allah Ta’ala limpahi kita semua dengan husnul khatimah. Semoga pula Allah Ta’ala baguskan keturunan kita. Allahumma aamiin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

(fauziya/muslimahzone.com)

No Responses

Leave a Reply

tito-karnavian
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
sosmed-dipantau
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
kin-4
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
jokowi-di-iran
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
menyadap
Allah SWT ‘Menyadap’ Kita
fardhukifayah
Level Fardhu Kifayah
menghina ulama
Hukum Menghina Ulama
risalah-islam
Kewajiban Mempelajari Al Qur’an
Rizki-Semut
Rizki di Tangan Allah
Bandul-Kehidupan
Pada Suatu Titik
empty_long_road_at_sunset-wide
Mencari Jalan Pulang
hoax
Republik Hoax
sepatu jodoh
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
istri 2
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
shaum
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
cinta_love
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
tauhid anak
Aku Peduli Iman Anakku
The sleeping boy
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
menghafal-alquran
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
gosok-gigi
Contoh Saja (Masih) Belum Cukup
cyber army 2
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
kamera
Jaga Aurat di Depan Kamera
selfie-muslimah
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
sosmedia
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
bani umayyah
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
isteri taat
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
wahyu alquran
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Muslim
Ikhtiar Pertama Apabila Seorang Muslim Sakit
air-mentimun
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
popok-bayi
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
nangka
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
minum
Cara Sederhana Membersihkan Tubuh Dari Racun
membaca-buku
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
cara-menyapih-anak
7 Tips Menyapih Anak
daging-kurban
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
menghafal
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
pangsit-kuah
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
resep-kue-ketan-isi-mangga
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
resep-lumpia
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
wedang-bajigur
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin