Menghindari Sifat Nifaq

MuslimahZone.com – Sebagai seorang Muslim, kita harus senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala kapan dan dimanapun kita berada, dengan senantiasa seoptimal mungkin mengerjakan segala perintah-Nya, baik saat sepi sendiri maupun saat ramai bersama manusia, karena tidak ada hal sekecil apapun yang bisa kita sembunyikan dari Allah, sebagaimana firman-Nya:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf : 16-18)

Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. At Taghabuun: 4)

Keyakinan yang kuat bahwa Allah ta’ala selalu mengawasi apa yang kita lakukan, bahkan mengetahui apa yang terbersit dalam hati kita, akan melahirkan setidaknya dua sikap:

Sikap pertama, sikap ihsan dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Saat Rasulullah ﷺ ditanya tentang makna ihsan oleh malaikat Jibril, beliau menjawab,

Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam aspek yang luas, seluruh kehidupan kita adalah ibadah. Karena itu, sikap ihsan ini akan tercermin bukan hanya saat kita shalat, namun saat kita bekerja kita tidak akan berani curang, saat kita berbicara kita tidaka akan berdusta, saat kita menjalankan suatu amanah kita tidak akan mencari celah untuk khianat karena semua itu diketahui Allah dan akan kita pertanggungjawabkan kelak.

Sikap kedua yang muncul dari keyakinan kita akan pengawasan Allah ta’ala adalah sikap berani dalam menampilkan identitas keislaman kita. Berani memegang komitmen untuk senantiasa ta’at kepada Allah ta’ala dimana saja kita berada.

Abu Dzar ra. berkata, “Telah bersabda kepadaku Rasulullah ﷺ:

Bertakwalah kepada Allah dimana saja kita berada. Dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Imam Tirmidzi, beliau berkata hadits ini hasan)

Islam menuntut ketakwaan dimana saja kita berada, di masjid, di luar masjid, di kantor, di pasar, di gedung wakil rakyat, juga di gedung-gedung pemerintah.

Sungguh, di antara jenis manusia terburuk adalah mereka yang ‘bermuka dua’. Yaitu mereka yang menampakkan satu identitas pada kelompok tertentu, dan menunjukkan identitas lain pada kelompok lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah ﷺ:

Sesungguhnya termasuk orang yang paling buruk adalah orang bermuka dua yang mendatangi mereka dengan satu muka dan mendatangi yang lain dengan muka lain.” (HR. Muslim)

Salah satu sifat orang munafiq adalah menjilat manusia untuk mengharapkan keridhaan mereka daripada keridhaan Allah ta’ala. Allah mengingatkan akan bahaya mereka dalam surat Al Munafiqun, ayat 4:

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”

Kaum munafiqin ini pandai bersilat lidah, namun kata-kata mereka sesungguhnya hampa dan tidak bermanfaat, karena kata-kata mereka bukan lahir dari keimanan yang kokoh kepada Allah, namun muncul dari syahwat kepada dunia ini.

Mereka yang bermuka dua dan mudah berdusta ini, tidak layak dijadikan teman setia apalagi sebagai pemimpin. Jika mereka telah terlanjur menjadi pemimpin, tidaklah patut bagi kita mendukung perbuatan dan kedustaan mereka.

Ka’ab bin ‘Ujrah berkata, “Kami pernah bepergian bersama Rasulullah ﷺ, dan saat itu kami sembilan orang, maka Rasulullah berkata:

Sesungguhnya akan muncul sesudahku para pemimpin (pendusta). Barangsiapa menganggap benar kedustaan mereka dan membantu kezhaliman mereka, maka ia tidak termasuk dari golonganku dan aku tidak termasuk golongannya. Dan ia tidak akan bertemu denganku di telaga al haudh (di surga). Dan barangsiapa tidak menganggap benar kedustaan mereka dan tidak membantu kezhaliman mereka. Maka ia termasuk dari golonganku dan aku termasuk golongannya. Dan ia akan bertemu denganku di telaga al haudh (di surga).” (HR. An Nasha’i. dishahihkan oleh al Albani)

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa:

Manusia berkata kepada Ibnu Umar, kami memasuki (rumah) penguasa kami, kemudian kami mengatakan kepada mereka berbeda dengan apa yang kami katakan tatkala kami keluar dari (rumah) mereka (penguasa). Ibnu ‘Umar berkata: adalah kaimi menghitungnya sebagai (sikap) nifaq (munafiq).”

Seseorang yang senantiasa merasa diawasi Allah juga akan berani mengatakan kebenaran walaupun di depan penguasa. Imam Al Hasan Al Bashri, seorang tabi’in besar berani menyampaikan kebenaran walaupun di hadapan penguasa yang kejam, al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Ketika al Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya, dan ketika bangunan tersebut rampung, al Hajjaj mengajak orang-orang agar keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendo’akan keberkahan untuknya. Al Hasan tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Maka dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari gelimang harta dunia dan menganjurkan mereka supaya mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla.

Ketika al Hasan telah sampai di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, terbuat dari bahan-bahan yang mahal, dikelilingi halaman yang luas dan sepanjang bangunan dihiasi dengan pernak-pernik, Al Hasan berdiri di depan mereka dan memberi peringatan, di antara yang beliau ucapkan adalah, “Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini tidak ubahnya seperti apa yang kita temukan pada masa Fir’aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir’aun dan menghancurkan apa yang dia bangun dan dia kokohkan itu. Mudah-mudahan al Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk bumi telah menipunya.”

Al Hasan terus berbicara dengan gaya seperti ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya,

Allah telah berjanji kepada Ahli ilmu, bahwa Dia akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”

Semoga Allah ta’ala menganugerahkan kepada kita sikap ihsan dan syaja’ah (berani) dan menjauhkan kita dari sifat nifaq.

Sumber: Kumpulan Ceramah Ramadhan

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Allah SWT ‘Menyadap’ Kita
Level Fardhu Kifayah
Hukum Menghina Ulama
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Cara Sederhana Membersihkan Tubuh Dari Racun
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin