Mengatasi Anak yang Tidak Mau Mendengarkan Orang Tua

Little boy getting cold and lonely

Muslimahzone.com –  Berbicara kepada anak dan mereka mau mendengarkan kadang menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Sering dijumpai saat kita berbicara justru anak tidak mendengarkan dan tidak merespon. Ini bukan terutama kewajiban anak harus mendengarkan setiap perkataan orangtua. Bukan tentang apa yang disampaikan orangtua harus didengar anak. Bukan pula tentang memaksa anak agar selalu mendengarkan setiap pembicaraan orangtua.

Anak-anak memiliki banyak hal yang dipikirkan. Menarik minat mereka di tengah banyak hal yang dipikirkannya memerlukan teknik berkomunikasi secara efektif. Selain itu, terampil menjadi pendengar yang baik perlu diajarkan sejak dini. Kelak ketika dewasa mereka memiliki keterampilan mendengarkan yang baik. Bukankah tidak sedikit orang dewasa yang rajin menyita perhatian orang lain tanpa diimbangi keterampilan mendengarkan?  

Sahabat Ummi, semoga langkah berikut ini memudahkan kita menarik minat anak mendengarkan pembicaraan kita.

1. Berbicaralah ketika kita sudah menarik minat perhatiannya

agaimana cara merebut perhatian anak? Kita tidak bisa memberi perintah dengan berteriak dari ruang sebelah. Atau menyuruh anak sarapan sementara kita berbicara kepadanya sambil suntuk memainkan gadget. Cara seperti itu tidak efektif. Pembicaraan kita akan menjadi suara yang berlalu begitu saja.

Letakkan gadget. Berjalanlah mendekati anak. Sejajarkan posisi komunikasi kita dengannya. Bila anak posisinya duduk, kita duduk di sampingnya. Lalu jalinlah koneksi. Menyentuh lengannya dengan lembut, atau bertanya, “Wah lagi asik main apa ini?”, – merupakan cara menjalin koneksi. Kita tunggu beberapa saat sampai anak menoleh dan menatap mata kita. Kemudian berbicaralah padanya dengan santun. “Ayo, kita sarapan dulu.”

2. Jangan mengulang perintah yang sama

Bila ajakan, perintah, pertanyaan belum direspon anak, kita tidak perlu mengulangnya sampai beberapa kali. Selain komunikasinya tidak efektif, hal ini disebabkan kita belum mendapat perhatian dari anak. Kita perlu kembali menempuh langkah pertama di atas.

3. Menggunakan kalimat efektif

Kalimat efektif memudahkan pendengar atau pembaca memahami isi pesannya. Efektif memilih diksi, efektif merangkai kalimat, efektif intonasi nadanya. Saat kita sudah merebut perhatiannya, memberi perintah atau bertanya pada anak tidak perlu menggunakan kalimat-kalimat panjang. Semakin panjang dan berbelit-belit akan menurunkan minat anak untuk mendengarkannya.

Singkat dan jelas. Ini keterampilan berkomunikasi yang patut dilatih di tengah kebiasaan kita yang cerewet dan gemar mengulang-ulang satu perintah. Bila cukup dengan kalimat: “Ayo kita shalat,” tak perlu kita berceramah panjang lebar tentang shalat.

4.  Melihat dari sudut pandang anak

Untuk menjalin komunikasi efektif dengan anak diperlukan kepiawaian memasuki dunia anak dan melihatnya dari sudut pandang mereka. Kita yang sedang sibuk beraktivitas rasanya enggan juga diminta untuk tiba-tiba menghentikannya. Anak pun demikian: mereka memiliki dunia sendiri yang kadang terlewat dari pertimbangan sikap berpikir orangtua.

“Asik ya bermain bongkar pasang. Sekarang kita shalat dulu yuk!” atau kita menggunakan simulasi ajakan yang lain. Prinsipnya melihat dari sudut pandang anak untuk mengempati perasaannya.

5. Bekerja sama dengan anak

Resistensi menerima perintah sudah menjadi naluri setiap orang. Tidak ada anak yang suka diperintah. Alih-alih memberi perintah dengan bahasa yang vulgar, kita bisa mencoba dengan teknik yang lebih manusiawi. Ajaklah anak bekerja sama menentukan pilihan. “Waktunya mandi, sayang. Sekarang atau lima menit lagi. Tidak pakai rewel ya.” Ketika lima menit sudah lewat, ajaklah anak mandi.

Ini memang tidak mudah. Saya sering terlibat tawar menawar. Anak menawar sepuluh menit. Saya tawar tujuh menit untuk menghentikan permainannya. Deal. Tidak terasa kita sudah mengempati anak. Kehangatan bercengkerama tetap terjaga.

6. Mengendalikan marah

Jangan memberi perintah atau nasehat ketika kita sedang marah. Ini sama sekali tidak efisien. Kondisi marah menyebabkan kita sulit mengendalikan pembicaraan. Komunikasi menjadi tidak efektif. Anak pun dicekam rasa takut. Ia akan menghindar dari semua perkataan kita.

Tetap tenang. Tarik nafas. Memastikan emosi kita sudah tenang terlebih dahulu, baru kita berbicara pada anak.

7. Menjadi pendengar yang baik bagi anak

Langkah ketujuh ini sepenuhnya bergantung pada sikap kita. Menuntut anak mau mendengarkan, kita awali dengan memberi contoh bagaimana menjadi pendengar yang baik. Komunikasi yang efektif dijalin dengan prinsip keseimbangan. Kita dan anak menjadi komunikator yang baik, yang salah satu unsurnya adalah keterampilan mendengarkan.

Semoga tujuh langkah ini menginspirasi kita memberikan pola asuh yang santun, manusiawi, dan memanusiakan anak.

(ummi-online/muslimahzone.com)

Leave a Reply

mendidik-anak
“Untuk Mendidik Seorang Anak, Butuh Orang Sekampung”
bahaya-smartphone
Waspadai Masalah Kesehatan Akibat Ketergantungan Smartphone!
aksi-bela-islam
Kronologi Kejadian Aksi Bela Islam II pada 4 Nov 2016 Resmi dari GNPF MUI
irena-handono
Terkait Penistaan Al-Qur’an, Umi Hj. Irena Handono Menulis Surat Terbuka Untuk Presiden dan Kapolri
israel-kebakaran
Kebakaran di Israel dan Tafsir Surat Al-Fajr
arisan
Hukum Arisan Dalam Islam
memukul
Kebolehan Memukul Istri dan Anak Sebagai Ta’dib
pasar-islam
Mal dan Fasilitas Dagang dalam Islam
mencintai-allah
Ya Allah Aku Mencintai-Mu, Walaupun Aku Bermaksiat Kepada-Mu…
kebakaran-israel
Hikmah Dibalik Kebakaran Dahsyat di Israel
memuji
Bolehkah Memuji Seseorang?
firaun
Azab Bagi Mereka yang Meniru Perilaku Fir’aun
nasehat-pasutri
Nasehat Pasutri Agar Kokoh Perkawinan
bunga-layu
Mengingkari Kebaikan Suami, Salah Satu Penyebab Terbanyak Wanita Masuk Neraka
keluarga-islami-2
Nasehat Rasulullah Agar Pernikahan Dipenuhi Keberkahan dan Kebahagiaan (Part 2)
keluarga-sakinah
Nasehat Rasulullah Agar Pernikahan Dipenuhi Keberkahan dan Kebahagiaan
anak-lucu
Kebutuhan Memahami Anak Usia Dini
mencium-bayi
Ini Alasan Sebaiknya Tidak Mencium Bibir Anak
kejujuran-anak
Mengokohkan Kejujuran Dalam Diri Anak
anak-laki-laki
Membangun Karakter Anak Laki-Laki
kamera
Jaga Aurat di Depan Kamera
selfie-muslimah
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
sosmedia
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
alay
Era Gadget Ciptakan Generasi Alay, Generasi Lalai
sepatu
Karena Ukuran Kita Tak Sama
muslim-ummah
Ilmu Sanad, Hanya Dimiliki Umat Islam
fetih1453_15
Shalat Jum’at di Jalanan Bid’ah ? Mari Tengok Sejarah !!
cosmos-chocolate
Wanita dengan Kataatan Seharum Parfum
profil-muhaimin-iqbal
The Age of Deception
obesitas
Apa yang Menjadi Penyebab Obesitas?
kentut
Sering Kentut, Ini Penyebab, Diagnosa dan Pencegahannya
perut-keroncongan
Perut Keroncongan Belum Tentu Karena Lapar
cara-menyapih-anak
7 Tips Menyapih Anak
daging-kurban
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
menghafal
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
menghafal alquran
Cara Cepat Menghapal Al Quran Dengan 15 Menit
resep-kue-ketan-isi-mangga
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
resep-lumpia
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
wedang-bajigur
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin
klepon
Klepon Yummy