Mana yang Lebih Kejam, Pajak Atau Upeti?

pajak

Muslimahzone.com – Pajak merupakan penghasilan utama dalam negara demokrasi. Setiap warga negaranya merupakan wajib pajak yang tidak bisa terlepas untuk membiayai negaranya. Kebijakan terbaru dari pemerintah yaitu tax amnesty juga merupakan salah satu upaya dari pemerintah untuk menarik uang dari rakyatnya. Jika begini, apa bedanya pajak dengan upeti di masa lalu.

Berikut tulisan dari Ust Choirul Anam terkait pajak dan upeti. Semoga bermanfaat.

Menurut saya, pajak dan upeti, secara substansi tidak ada bedanya. Bedanya mungkin hanya nama dan kesan yang  ditimbulkan. Upeti kesannya kuno, pajak kesannya modern.

Tetapi, intinya sama saja, yaitu mengambil harta rakyat, bahkan kalau perlu secara paksa, tanpa kompensasi secara langsung dari penguasa.

Bahkan, pajak terasa jauh lebih dzalim dibanding upeti. Sebab upeti mungkin hanya diambil dari orang tertentu. Pajak sebaliknya, diambil dari siapapun, bahkan dari bayi yang baru lahir. Saat bayi butuh susu atau popok, orang tuanya yang membelikan wajib “dipalak” dengan upeti, eh pajak. Tak peduli, ia kaya atau miskin. Tak peduli, itu uang sendiri atau hutang. Pokoknya harus setor upeti.

Terkadang kita bertanya: sebetulnya ada negara dan pemerintahan itu untuk apa?

Adanya pemerintahan dan negara mestinya adalah agar rakyat bisa hidup sejahtera, harmonis, aman, tanpa gangguan orang-orang yang suka berbuat dzalim. Sebab, negara berhak menjatuhkan sanksi kepada pihak yang dzalim. Jadi, negara sebenarnya adalah “bapak besar” kita. Tempat kita mengadu, meminta tolong, dan berlindung.

Tapi apa jadinya, jika yg seharusnya “ayah besar” jadi “preman besar”. Dunia ini akan terasa neraka. Rakyat dipalaki. Habis itu uangnya dipakai korupsi dan hura-hura. Maka benarlah saat Rasul menyatakan bahwa saat orang-orang meninggalkan dakwah, amar makruf, nahi mungkar akan diadzab Allah di dunia dengan dianugrahi pemimpin yang dzalim. Pemimpin yang seharusnya “ayah besar” jadi “preman besar”. Mendzalimi rakyat, mengambili harta rakyat, dan tak segan menghukum dengan sangat sadis siapa saja yang tak tunduk kepadanya.

Padahal di sana ada kekayaan alam yang melimpah ruah, yang jika dikelola dengan benar dapat digunakan memenuhi kebutuhan rakyat dan menjalankan roda pemerintahan. Akan tetapi kekayaan itu justru dikasihkan kepada konglomerat hitam. Sebaliknya, pemerintah justru hanya concern unk memalak rakyatnya, yang sebagian mendapatkan uang dengan memeras keringat dan dengan cucuran air mata.

Padahal menurut Imam Ibnu Khaldun: pajak yang semakin tinggi, menandakan peradaban atau pemerintahan semakin dekat kehancuran. Sebab, pemerintahan sebetulnya adalah kesepakatan rakyat. Jika rakyat kecewa secara massal, maka detik-detik kehancurannya tinggal tunggu momentum. Memang selalu ada peluang perubahan dan semoga kondisi sekarang mengantarkan kita pada perubahan yang hakiki.

Upeti atau pajak, juga sangat dikecam oleh Rasulullah. Bahkan beliau mengatakan: la yadkhulul jannata shohibu maksin (tidak masuk surga pemungut cukai atau pengambil upeti atau pengambil pajak).

 

Jika memang upeti dan pajak itu sama saja, apakah layak kita yang masih dipalak dengan berbagai pajak bahkan terus meningkat, lalu mengaku sebagai manusia merdeka dan hidup di alam kemerdekaan?

Memang di sana ada perbedaan secara teknis antara pajak dan upeti. Namun perbedaan itu hanyalah masalah teknis dan hanya urusan permukaan semata.

*****

Apakah dalam Islam ada pajak?

Pajak dalam Islam disebut dharibah. Dan pajak juga ada. Tapi pajak hanya diambil negara saat tertentu saja, yaitu saat ada kebutuhan mendesak yang bersifat insidental dan harus dipenuhi. Nah pada saat itu negara boleh mengambil pajak. Pajak hanya boleh diambil dlm kondisi darurat, bukan kondisi normal.

Tetapi, pajak tidak boleh diambil dari semua rakyat. Pajak hanya boleh diambil dari rakyat yang kaya, yang  kebutuhannya telah terpenuhi. Pajak sama sekali tak boleh diambil dari rakyat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Jika pajak tidak dijadikan sebagai pemasukan negara, lalu dari mana pemasukan negara? Jawabnya dari pos-pos lain yang sangat banyak. Misalnya dari pos kekayaan alam, fai, kharaj, dll. Dan semua itu akan lebih dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhan rakyat dan juga pemerintahan. Hal itu telah diatur secara detil dalam Islam.

*****

Pilih mana: sistem yang selalu membebani rakyat dengan berbagai upeti dan pajak, lalu hak-hak rakyat diabaikan begitu saja; atau memilih sistem yang tidak membebani rakyat dengan berbagai pungutan, sementara hak-hak rakyat ditunaikan dengan adil?

Semua berpulang kepada kita. Jika kita memang senang dipalaki dengan berbagai pajak dan upeti, maka sistem sekarang (demokrasi) memberikan pilihan yang ideal bagi kita. Namun, jika kita anti upeti dan berbagai pungutan dzalim, maka saatnya kita berbenah menuju perubahan yang lebih baik.

Wallahu a’lam.

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

tito-karnavian
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
sosmed-dipantau
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
kin-4
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
jokowi-di-iran
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
menyadap
Allah SWT ‘Menyadap’ Kita
fardhukifayah
Level Fardhu Kifayah
menghina ulama
Hukum Menghina Ulama
risalah-islam
Kewajiban Mempelajari Al Qur’an
Rizki-Semut
Rizki di Tangan Allah
Bandul-Kehidupan
Pada Suatu Titik
empty_long_road_at_sunset-wide
Mencari Jalan Pulang
hoax
Republik Hoax
sepatu jodoh
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
istri 2
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
shaum
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
cinta_love
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
tauhid anak
Aku Peduli Iman Anakku
The sleeping boy
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
menghafal-alquran
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
gosok-gigi
Contoh Saja (Masih) Belum Cukup
cyber army 2
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
kamera
Jaga Aurat di Depan Kamera
selfie-muslimah
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
sosmedia
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
bani umayyah
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
isteri taat
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
wahyu alquran
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Muslim
Ikhtiar Pertama Apabila Seorang Muslim Sakit
air-mentimun
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
popok-bayi
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
nangka
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
minum
Cara Sederhana Membersihkan Tubuh Dari Racun
membaca-buku
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
cara-menyapih-anak
7 Tips Menyapih Anak
daging-kurban
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
menghafal
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
pangsit-kuah
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
resep-kue-ketan-isi-mangga
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
resep-lumpia
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
wedang-bajigur
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin