Kesungguhan Ulama dalam Belajar Agama (1/2)

belajar

Muslimahzone.com – Saat ini, ilmu agama bukanlah prioritas utama bagi sebagian umat Islam. Tentu karena mereka tidak tahu harga dan hakikatnya. Para ulama, dari zaman sahabat Nabi ﷺ hingga saat ini, menunjukkan keseriusan yang begitu besar dan usaha yang begitu hebat untuk mempelajari agama. Usaha mereka ini, memberikan pemahaman kepada kita seberapa besar kedudukan ilmu agama menurut mereka. Seberapa mahal ilmu itu hingga layak dicurahkan usaha yang keras untuk mendapatkannya. Karena inilah ilmu tentang firman Allah ﷻ dan sabda Rasulullah ﷺ.

Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari bahwasanya Umar bin al-Khattab berkata, “Aku dan tetanggaku seorang Anshar (yakni Aus bin Khauli), seorang dari bani Umayyah bin Zaid, kami saling bergantian mendatangi majelis Rasulullah ﷺ. Ia datang pada suatu hari dan aku pada hari lainnya. Apabila aku yang menghadiri majelis, akan aku sampaikan kepadanya tentang wahyu dan penjelasan lainnya pada hari itu. Apabila ia yang datang, ia pun melakukan hal yang sama.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-‘Ilm 89).

Umar bergantian dengan tetangganya karena mereka meluangkan waktu antara belajar agama dan mencari nafkah. Kalau hidup di dunia yang fana ini butuh usaha untuk mencukupinya, tentu kehidupan akhirat yang kekal butuh usaha ekstra untuk bekalnya.

Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma bercerita tentang perjalanannya mempelajari agama. Mengambil bagian dari warisan Rasulullah ﷺ. Ia berkisah, “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang laki-laki Anshar, ‘Wahai Fulan, marilah kita bertanya kepada sahabat-sahabat Nabi ﷺ, mumpung mereka masih banyak (yang hidup) saat ini’. ‘Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu Abbas! Apa kau anggap orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh para sahabat Rasulullah ﷺ sebagaimana yang kaulihat?’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Aku pun meninggalkannya. Aku mulai bertanya dan menemui para sahabat Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, aku mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu hadits yang kudengar bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah ﷺ. Ternyata dia sedang tidur siang. Lalu aku rebahan berbantalkan selendangku di depan pintunya, dan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai ia keluar.

Ketika ia keluar, ia terkejut dengan kehadiranku. Ia berkata, ‘Wahai putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini?’ tanyanya. ‘Aku ingin mendapatkan hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari Rasulullah ﷺ. Aku ingin mendengar hadits itu darimu,’ jawabku.

‘Mengapa tidak kau utus saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang mendatangimu?’ katanya. ‘Aku lebih berhak untuk datang kepadamu,’ jawabku.

Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal, orang tadi (dari kalangan Anshar tadi) melihatku dalam keadaan orang-orang membutuhkanku. Dia pun berkata padaku, ‘Engkau memang lebih cerdas daripada aku’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/310).

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan kisah ini, kisah kesungguhannya belajar agama. “Aku pernah datang ke rumah Ubay bin K’ab. Saat itu ia sedang tidur. Kutunggu ia sambil tidur siang di depan pintu rumahnya. Kalau Ubay tahu, pasti dia membangunkanku, karena dekatnya kedudukanku (sepupu) dengan Rasulullah ﷺ. Tapi aku tidak suka mengandalkan hal itu”.

Dalam riwayat lain, beliau radhiallahu ‘anhuma menyatakan, “Aku mendekati tokoh-tokoh sahabat Rasulullah ﷺ dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Aku bertanya kepada mereka tentang peperangan Rasulullah ﷺ dan tentang ayat-ayat Alquran. Setiap sahabat yang kudatangi pasti senang dengan kedatanganku karena kedekatan nasabku dengan Rasulullah ﷺ. Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu. Ia adalah seorang yang dalam ilmunya. Aku bertanya tentang ayat-ayat Alquran yang turun di Madinah. Ia menjawab, ‘Di Madinah diturunkan 27 surat, dan selainnya di Mekah’.” (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 2/371).

Asy-Sya’bi

Beliau adalah seorang ulama tabi’in. Ia pernah ditanya, “Dari mana kau peroleh seluruh ilmumu?” Ia menjawab, “Dengan cara tidak bersandar (bermalas-malasan). Bersafar ke berbagai daerah. Sabar, sebagaimana sabarnya keledai. Bersegera sedari pagi sebagaimana burung gagak”. (adz-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffazh, 1/81).

Imam asy-Syafi’i

Lihatlah bagaimana Imam asy-Syafi’i berlelah letih dalam belajar, hingga ia mencapai derajat yang kita ketahui saat ini. Beliau rahimahullah bercerita tentang proses belajarnya, “Aku telah menghafalkan Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal al-Muwaththa (buku hadits yang disusun Imam Malik) saat berusia 10 tahun.” (Abu al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 24/366).

Menurut sebagian orang, alangkah beratnya masa kanak-kanak Imam asy-Syafi’i. Namun apa yang ia capai di masa kecil melahirkan orang sekelas dirinya di saat dewasa. Melalui dirinya, Allah ﷻ memberikan manfaat kepada umat manusia. Kemanfaatan berupa ilmu. Tidak hanya untuk orang-orang di zamannya saja. Tapi manfaat tersebut terus terasa hingga jauh dari masa hidupnya. Hingga masa kita sekarang ini.

Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Ketika aku telah menghafalkan Alquran (30 juz), aku masuk ke masjid. Aku mulai duduk di majelisnya para ulama. Mendengarkan hadits atau pembahasan-pembahasan lainnya. Aku pun menghafalkannya juga. Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa ia berikan padaku untuk membeli kertas (buku untuk mencatat). Jika kulihat bongkahan tulang yang lebar, kupungut lalu kujadikan tempat menulis. Apabila sudah penuh, kuletakkan di tempaian yang kami miliki.” (Ibnu al-Jauzi dalam Shifatu Shafwah, 2/249 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 51/182).

Saat beliau mulai beranjak besar, antara usia 10-13 tahun, beliau butuh kertas untuk menulis apa yang telah dipelajari, tapi tidak ada uang untuk membeli kertas-kertas itu. Ia pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan kertas yang telah terpakai di satu sisi halamannya. Separuh lembar yang kosong itu, beliau gunakan untuk mencatat ilmu (Abu al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 24/361).

Untuk apa usaha besar itu dilakukan oleh Asy-Syafi’i kecil, padahal ia masih terlalu muda? Jawabnya untuk ilmu yang menurutnya begitu berharga.

Ibnu Abi Hatim mendengar cerita dari al-Muzani, bahwasanya Imam asy-Safi’i pernah ditanya, “Bagaimana obsesimu terhadap ilmu?” Imam asy-Syafi’i menjawab, “Ketika aku mendengar suatu kalimat yang belum pernah kudengar, maka seluruh anggota badanku merasakan kenikmatan sebagaimana nikmatnya kedua telinga saat mendengarkannya.”

Beliau juga ditanya, “Bagaimana semangatmu dalam mendapatkannya?” Ia menjawab, “Sebagaimana orang yang bersemangat mengumpulkan harta dan pelit membaginya merasakan kenikmatan terhadap harta.”

Beliau ditanya pula, “Bagaimana engkau menginginkannya?” “Aku menginginkannya sebagaimana seorang ibu yang kehilangan anaknya, tidak ada yang dia ingin kecuali anaknya.” Jawabnya.

Kita bisa tahu, apa yang beliau ucapkan ini bukanlah omong kosong yang tak bermakna. Kalau bukan dengan obsesi sebesar itu, semangat sehebat itu, dan keinginan sekuat itu, tentu ia tidak menjadi seperti Syafi’i yang kita tahu.

Derajat imam (pemimpin) dalam ilmu itu tidak diperoleh dengan santai-santai. Banyak hal yang harus dikorbankan. Sebagaimana kata Ibnu Taimiyah, “Sesungguhnya kedudukan keimaman dalam agama hanya didapatkan dengan kesabaran dan keyakinan.” (Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa, 3/358).

Dan Allah ﷻ mengajarkan kita sebuah doa:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Menurut Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma maksud ayat ini adalah “Jadikan kami pemimpin-pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.” (Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, 3/439).

Bersambung insya Allah…

(kisahmuslim/muslimahzone.com)

Leave a Reply

mendidik-anak
“Untuk Mendidik Seorang Anak, Butuh Orang Sekampung”
bahaya-smartphone
Waspadai Masalah Kesehatan Akibat Ketergantungan Smartphone!
aksi-bela-islam
Kronologi Kejadian Aksi Bela Islam II pada 4 Nov 2016 Resmi dari GNPF MUI
irena-handono
Terkait Penistaan Al-Qur’an, Umi Hj. Irena Handono Menulis Surat Terbuka Untuk Presiden dan Kapolri
israel-kebakaran
Kebakaran di Israel dan Tafsir Surat Al-Fajr
arisan
Hukum Arisan Dalam Islam
memukul
Kebolehan Memukul Istri dan Anak Sebagai Ta’dib
pasar-islam
Mal dan Fasilitas Dagang dalam Islam
pertolongan-allah
Pertolongan Allah Kepada yang Menolong Agamanya
cairo
Suara Hati dari Cairo
lidi-umat
Ketika Lidi Umat Bersatu…
mencintai-allah
Ya Allah Aku Mencintai-Mu, Walaupun Aku Bermaksiat Kepada-Mu…
nasehat-pasutri
Nasehat Pasutri Agar Kokoh Perkawinan
bunga-layu
Mengingkari Kebaikan Suami, Salah Satu Penyebab Terbanyak Wanita Masuk Neraka
keluarga-islami-2
Nasehat Rasulullah Agar Pernikahan Dipenuhi Keberkahan dan Kebahagiaan (Part 2)
keluarga-sakinah
Nasehat Rasulullah Agar Pernikahan Dipenuhi Keberkahan dan Kebahagiaan
anak-lucu
Kebutuhan Memahami Anak Usia Dini
mencium-bayi
Ini Alasan Sebaiknya Tidak Mencium Bibir Anak
kejujuran-anak
Mengokohkan Kejujuran Dalam Diri Anak
anak-laki-laki
Membangun Karakter Anak Laki-Laki
kamera
Jaga Aurat di Depan Kamera
selfie-muslimah
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
sosmedia
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
alay
Era Gadget Ciptakan Generasi Alay, Generasi Lalai
arrayah-212
Kisah Ar Rayah di Aksi Damai 212
salat-jumat-212-diguyur-hujan
Semerbak Harum Saat Hujan Turun Dalam Aksi 212
sepatu
Karena Ukuran Kita Tak Sama
muslim-ummah
Ilmu Sanad, Hanya Dimiliki Umat Islam
mandi-malam
Manfaat dan Resiko Mandi di Malam Hari
profil-muhaimin-iqbal
The Age of Deception
obesitas
Apa yang Menjadi Penyebab Obesitas?
kentut
Sering Kentut, Ini Penyebab, Diagnosa dan Pencegahannya
cara-menyapih-anak
7 Tips Menyapih Anak
daging-kurban
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
menghafal
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
menghafal alquran
Cara Cepat Menghapal Al Quran Dengan 15 Menit
resep-kue-ketan-isi-mangga
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
resep-lumpia
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
wedang-bajigur
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin
klepon
Klepon Yummy