Kasus Penelantaran Anak: Disfungsi Keluarga dan Masalah Sistemik

MuslimahZone.com – Kasus penelantaran anak karena masalah ekonomi yang menjerat keluarga kerap terjadi seiring bertambahnya beban hidup yang harus ditanggung oleh kepala keluarga. Apalagi kalau keluarga tersebut memiliki banyak anak. Terjadilah banyak kasus pembuangan anak di depan rumah warga atau di pelataran masjid.

Namun, berbeda dengan kasus yang baru-baru ini terjadi di Cibubur, Jakarta Timur. Kasus penelantaran anak oleh dosen STT Muhammadiyah Utomo Perbowo (45) dan istrinya Nurindria Sari (42) bukanlah didasari alasan ekonomi. Hasil analisis yang dikemukakan oleh salah satu pengamat sosial Devi Rahmayanti dan pihak kepolisian yang memeriksa kasus ini bahwa kedua pasangan suami istri ini tega menelantarkan anak-anak mereka lantaran penggunaan narkotika jenis shabu yang mereka konsumsi selama 6 bulan terakhir ini (tempo.co/19/05/2015).

Pola Asuh yang salah

Alasan penelantaran anak di kawasan Cibubur ini bisa jadi memang karena penggunaan narkoba sehingga mereka tega melakukannya terhadap anak-anak mereka dan mengakibatkan trauma yang luar biasa terhadap psikis anak. Namun, bila kita mau lebih mengkaji kasus ini ada alasan lain yang bisa dikemukakan yaitu salahnya pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap anak mereka.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Charlian, usai temui 5 anak di safe house, Cibubur, Jl Karya Bakti, Jakarta, Sabtu menyatakan bahwa kedua pasangan suami istri ini menganggap penelantaran anak adalah hal yang benar untuk pendidikan anaknya (news.detik.com/16/5/2015).

Kesalahan pola asuh inilah yang tampaknya dominan terjadi di keluarga Indonesia. Kemungkinan hal yang serupa bukan hanya terjadi di Kawasan Cibubur, tapi juga di wilayah lain. Bagaimana orang tua tidak memiliki standar dalam mendidik anak, bahkan tidak memiliki visi dalam membangun keluarga dan membina setiap anggota keluarga didalamnya.

Buruknya pola asuh ini akan memberikan dampak yang buruk juga terhadap perkembangan fisik dan psikis anak. Padahal anak adalah generasi yang notabene adalah penerus estafet kepemimpinan masa depan. Bisa kita bayangkan bila mereka dibesarkan dalam pola asuh orang tua yang buruk bagaimana jadinya output generasi yang dihasilkan kemudian.

Disfungsi Keluarga Akibat Penerapan Sistem yang Salah

Keluarga adalah institusi terkecil yang merupakan benteng terakhir penjagaan anak-anak dari bahaya yang berasal dari luar. Baik berupa bahaya fisik maupun bahaya pemikiran. Namun, kita melihat pada faktanya sekarang bahwa banyak institusi keluarga yang tidak mampu menjaga anggota keluarganya dari kedua bahaya ini. Bahkan mereka mengawali membangun dan membina keluarganya dengan nilai-nilai atau sistem hidup saat ini yang justru berdampak pada kehancuran keluarga tersebut.

Mengutip pernyataan dari juru bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Iffah Ainur Rochmah, Ahad (17/5) bahwa disfungsi keluarga semakin banyak terjadi seiring modernitas dan kehidupan berbasis demokrasi. Nilai HAM membuat keluarga individualis, tak mau mendengar nasihat lingkungan.

Dalam hal ini tidak bisa juga kita menyalahkan keluarga karena ada peran pemerintah yang seharusnya mampu mencegah terjadinya disfungsi keluarga ini. Kasus penelantaran anak oleh orang tuanya menjadi salah satu contoh kelalaian negara dalam menyosialisasikan bagaimana pola asuh yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang tua.

Negara memiliki kewajiban untuk membina institusi keluarga di seluruh penjuru Indonesia dengan pendidikan formal dan non formal semisal dengan bimbingan dan penyuluhan. Dengan adanya kasus ini, negara juga dinilai lemah dalam menjaga institusi terkecil ini dari bahaya kekerasan, tontonan yang tidak mendidik juga dari peredaran miras serta narkoba.

Selamatkan Generasi dengan Khilafah

Apabila kita mau mengkaji secara mendalam, akan kita dapati bahwa akar masalah dari semua yang terjadi pada anak, apakah itu kekerasan, penelantaran, kerusakan moral anak, pergaulan bebas dan rusaknya lingkungan anak adalah karena diterapkannya sistem kapitalisme demokrasi dengan nilai-nilai bebasnya.

Sistem ini selain telah mengakibatkan kemiskinan, tetapi juga telah mengacaukan sistem sosial dan yang paling dirasakan dampaknya adalah rusaknya institusi terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga.

Solusi parsial yang dilakukan pemerintah dan lembaga perlindungan anak kiranya tidak mampu menyelesaikan permasalahan secara tuntas karena akar masalahnya ada pada penerapan sistem yang rusak saat ini. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain selain kembali kepada sistem yang mampu memuliakan generasi dan ummat, baik muslim maupun non muslim, yang memang telah terbukti mampu menghasilkan generasi yang bertakwa dan berkualitas, yaitu sistem Khilafah yang menerapkan Islam secara kaaffah.

Khilafah akan membina individu dan masyarakat yang merupakan pilar negara dengan Islam sehingga menjadikan individu (dalam hal ini orang tua) dan masyarakat yang bertakwa. Orang tua yang bertakwa pastinya akan mendidik, merawat, mengayomi dan membimbing anak-anak mereka dengan ketakwaan mereka sehingga menjadikan anak-anak mereka individu yang bertakwa juga bukan menelantarkan mereka.

Kemudian masyarakat yang bertakwa akan senantiasa mengawasi setiap individu agar tidak melakukan pelanggaran. Selain itu, penerapan sistem ekonomi Islam akan mampu memenuhi kebutuhan primer masyarakat per individu, mulai dari pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan.

Khilafah juga akan memberikan sanksi kepada orang tua atau pihak manapun yang melakukan kekerasan ataupun penelantaran terhadap anak mereka karena setiap anggota tubuh anak memiliki diyat yang sama dengan orang dewasa ( Abdurrahman Al Maliki, 1990).

Walhasil, hanya dengan Khilafahlah yang menerapkan Islam secara kaaffah yang mampu menyelesaikan semua permasalahan generasi bahkan mampu menghasilkan generasi yang terbaik sebagai calon pemimpin masa depan. Wallahua’lam bishshowwab.

Rina Yunita, SP

Pengamat Remaja (Produsen Majalah Anak Alif) Jatinangor Kab. Sumedang.

Sumber: suara-islam.com

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Allah SWT ‘Menyadap’ Kita
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Cara Sederhana Membersihkan Tubuh Dari Racun
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin