Hidup Tak Seindah Media Sosial

medsos

Muslimahzone.com – Sobat, kamu aktif di media sosial? Pastinya pernah dong membanding-bandingkan hidupmu dengan teman-temanmu. Kayaknya temanku kok lebih sukses ya, lebih pintar, lebih kaya, lebih bahagia dan lebih segalanya.

Kesimpulan itu kita dapat setelah mengintip profil, membaca status atau komentar-komentar mereka di media sosial.Ya, ketika kita terhubung dengan teman-teman kita yang sekian lama tidak berjumpa, kini kita jadi tahu seperti apa mereka.

Saya akui, saya pun pernah merasa “iri” dengan teman-teman saya. Saat awal-awal aktif di media sosial, saya pun terkagum-kagum dengan perubahan beberapa teman. Ada yang dulu tidak berkerudung, kini sudah menutup auratnya. Ada yang dulu begajulan/pecicilan/pencilakan (hehe…Bahasa Jawa ini, artinya semacam usil, nakal atau tengil gitu deh), sekarang telah menjelma menjadi orangtua yang bijak.

Ada juga teman-teman saya yang sudah mencapai gelar profesor, doktor, haji/hajah, dll. Ada yang sudah keliling ke berbagai negara. Ada yang anaknya sangat berprestasi, cakep, cantik, dll. Wow, hidup mereka begitu sempurna.

Apalagi kalau kita membandingkan dengan profil publik figur. Makin mengkeret deh. Mereka memiliki segala-galanya. Kerjanya jalan-jalan melulu, shopping, wisata kuliner, banyak prestasi, punya keluarga bahagia, hidupnya pun sempurna.

Kayaknya kok kita jadi merasa orang yang paling kurang beruntung sedunia. Jangankan traveling atau shopping, duit juga punya pas-pasan. Jangankan wisata kuliner, makan sehari-hari juga gitu-gitu aja. Nah, itulah yang memunculkan penyakit hati, yakni iri, sedih, minder, nggak pede, putus asa dan bahkan tidak bersyukur.

Padahal, kita tidak pernah tahu profil teman kita yang sebenarnya di dunia nyata itu seperti apa. Media sosial itu kan dunia maya, segalanya melalui setingan. Tidak semuanya sama dengan kehidupan mereka di dunia nyata. Jadi, jangan buru-buru kita menilai mereka lebih bahagia dari kita.

Bukankah ketika mereka melihat profil kita, merekapun mungkin berpikir sama, iri dengan kehidupan kita yang di mata mereka sempurna? Mungkin, justru mereka “iri” dengan kita. Padahal kita yang merasakan sendiri, bahwa hidup kita tak seindah di media sosial.

Kembali soal setingan, begini penjelasannya. Umumnya, media sosial itu adalah alat untuk menampilkan citra diri kepada publik yang tidak mampu dijangkau di kehidupan nyata. Melalui media itulah, kita ingin mengabarkan kepada dunia tentang eksistensi diri kita. Tentu saja, citra yang ditampilkan yang baik-baik saja. Yang buruk-buruk biarlah kita sembunyikan rapat-rapat. Kita nggak mungkin mengabarkan kejelekan kita sendiri kan?

Yah, kecuali beberapa gelintir orang yang memanfaatkan media sosial hanya untuk curhat, mencurahkan kegalauan, keputus-asaan, bahkan misuh-misuh (Bahasa Jawa lagi nih, mengumpat). Menurut saya, orang seperti itu sungguh merugi. Itu orang yang nggak ngerti fungsi utama media sosial.

Kalau menurut saya, media sosial itu adalah media untuk mem-branding diri. Yang sadar betul kegunaan ini, misalnya artis-artis ya. Mereka sadar betul diri mereka sebagai sebuah brand. Makanya biar eksis terus, wajib hukumnya bagi mereka untuk upload kegiatan sehari-hari mereka melalui media sosial, apakah dalam bentuk foto-foto atau status.

Nah, pastinya, status atau foto yang ditampilkan adalah yang baik-baik saja. Ini yang saya bilang setingan tadi. Contohnya kalau kita punya akun instagram, pengin upload foto, pasti akan memilih pose terbaik. Nggak mungkin foto yang jelek yang kita share. Iya, kan?

Demikian pula ketika membagikan pengalaman sehari-hari. Coba pas kita makan di kaki lima yang menunya biasa aja, misal mi ayam di dekat rumah, nggak akan sibuk selfie. Tapi sekalinya kita makan di restoran atau hotel bintang lima, pasti nggak ketinggalan upload foto-fotonya. Itulah mengapa yang tampak di media sosial itu adalah yang indah-indah saja. Yang happy-happy saja. Yang mewah-mewah saja. Yang enjoy-enjoy saja. Dan memang itulah karakter dasar manusia, ada gharizah baqo, ada ego yang ingin diakui eksistensinya, yang selalu ingin terlihat sempurna. Dan itu sah-sah saja.

Maka dengan begitu, berhentilah membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Sebab, apa yang sudah diraih orang lain dan belum kita miliki, belum tentu itu memang sesuatu yang kita butuhkan. Belum tentu apa yang dimiliki atau dicapai orang lain itu, adalah hal yang baik dan berguna bagi kita. Karena kita berbeda dengan mereka.

Kuncinya adalah selalu bersyukur. Allah SWT pasti sudah memilihkan jalan hidup kita yang terbaik. Syukuri. Kalaupun masih serba kekurangan, itu sebagai bahan introspeksi barangkali kita memang masih kurang ikhtiarnya. Dari sana kita justru berfikir, bagaimana supaya bisa menghadapi ujian berupa kekurangan-kekurangan tadi.

Jangan pula kekurangan ini kita ekspos di media sosial, seolah-olah tidak ada rasa syukurnya. Justru kekurangan ini kita jadikan pemicu untuk berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Sementara bagi yang sudah berkecukupan, alhamdulillah dan jangan sombong. Tetap tawadhu.

Juga, harus tetap bersyukur. Yakinlah, setiap orang itu punya jalan hidup masing-masing yang sudah dirancang Allah SWT. Tinggal manusia berikhtiar sekuat tenaga untuk meniti jalan terbaik yang dia inginkan, yang dia cita-citakan.  Tentunya, dengan jalan yang halal dan diridhoi Allah SWT.

Hidup kita adalah kita, bukan mereka. Kita tidak bisa meniru atau meniti jalan hidup orang lain. Yang ada hanya menjadikan mereka sebagai inspirasi. Kita sendirilah yang harus mewujudkan mimpi-mimpi kita. 

Ingatlah Allah SWT berfirman (Ar-ra’du:11).

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ….

artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.

Oleh : Asri Supatmiati

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

tito-karnavian
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
sosmed-dipantau
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
kin-4
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
jokowi-di-iran
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
menyadap
Allah SWT ‘Menyadap’ Kita
fardhukifayah
Level Fardhu Kifayah
menghina ulama
Hukum Menghina Ulama
risalah-islam
Kewajiban Mempelajari Al Qur’an
Rizki-Semut
Rizki di Tangan Allah
Bandul-Kehidupan
Pada Suatu Titik
empty_long_road_at_sunset-wide
Mencari Jalan Pulang
hoax
Republik Hoax
sepatu jodoh
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
istri 2
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
shaum
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
cinta_love
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
tauhid anak
Aku Peduli Iman Anakku
The sleeping boy
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
menghafal-alquran
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
gosok-gigi
Contoh Saja (Masih) Belum Cukup
cyber army 2
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
kamera
Jaga Aurat di Depan Kamera
selfie-muslimah
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
sosmedia
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
bani umayyah
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
isteri taat
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
wahyu alquran
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Muslim
Ikhtiar Pertama Apabila Seorang Muslim Sakit
air-mentimun
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
popok-bayi
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
nangka
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
minum
Cara Sederhana Membersihkan Tubuh Dari Racun
membaca-buku
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
cara-menyapih-anak
7 Tips Menyapih Anak
daging-kurban
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
menghafal
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
pangsit-kuah
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
resep-kue-ketan-isi-mangga
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
resep-lumpia
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
wedang-bajigur
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin