Dunia Tanpa Paspor

paspor

Muslimahzone.com – Dunia tak selebar daun kelor. Memang benar. Betapa luasnya hamparan bumi Allah ini. Manusia, jika diberi umur 60 tahun, lalu berkeliling dunia seumur hidupnya, mungkin tidak cukup waktu menginjakkan kaki di setiap sudutnya. Karena, betapa kecilnya manusia. Saat “mengangkasa” di atas sekian kilometer saja di udara, terasa sekali kecilnya, dibanding hamparan di bawah sana.

Tapi, di era global dan kecanggihan teknologi saat ini, dunia ternyata kian “menyempit”. Bukan dalam makna harfiah, tentunya. Tapi lihatlah, manusia sekarang sudah semakin menyatu dalam dunia yang sama. Kian tak terpisah ruang dan waktu.

Bahkan ada ungkapan yang mengatakan: makan pagi di Jakarta, makan siang di Paris, makan malam di Mekah. Kalau versi muslim, bisa jadi begini: salat subuh di Jakarta, duhur di Kuala Lumpur, ashar dan maghrib di Istanbul dan isya di manalah (hehe…pakai pesawat jet pribadi, mungkin saja, kan?). Manusia yang kecil, kian mampu menjangkau dunia dalam sekejap.

Anak-anak belasan tahun pun, hari ini, sudah sangat gape backpaker-an ke berbagai sudut indah dunia. Sekadar jalan-jalan. Selfie. Orang Indonesia gemar keliling Eropa, orang Eropa antusias keliling Indonesia.

Lalu, anak-anak cerdas, betapa “mudahnya” mendapat beasiswa. Kuliah di universitas-universitas ternama di berbagai benua. Kian banyak saja kenalan, teman atau anak teman saya yang kuliah S1, S2 atau S3 di berbagai dunia.

Eh, tapi yang kurang beruntung dari sisi kecerdasan inipun, banyak yang merantau lintas benua. Paling tidak jadi tenaga kerja kasar di berbagai negara. Legal maupun ilegal. Kadang akhirnya menetap di sana, menikah dan beranak pinak. Ada yang menggaet jodoh orang lokal, lalu membawa pulang anak-anak berwajah blasteran. Maka, ras manusia hari ini kian beragam. Tapi, juga kian mirip-mirip.

Jadi, saya kira, orang dengan ras Indonesia, saat ini, sudah ada hampir di seluruh sudut dunia. Berkiprah. Berkarier. Menetap. Bahkan sepotong bumi bernama Suriname itu, isinya orang Jawa. Sangat Indonesia. Sedikit contoh betapa mengglobalnya orang Indonesia adalah berikut ini:

Belum lama ini Indonesia dikejutkan berita, Warga Indonesia Pidato di Konvensi Partai Demokrat AS. Namanya Ima Matul Maisaroh. Perempuan asal Desa Gondanglegi, Malang, Jawa Timur, itu berpidato di depan puluhan ribu delegasi dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat AS, di Philadelphia, Pennsylvania, 26 Juli lalu sebagai mantan korban perdagangan manusia yang kemudian menjadi aktivis antiperdagangan manusia. Lihatlah, bahkan di hajatan internal super penting AS saja, ada wajah Indonesia di sana.

Ada lagi warga Indonesia, namanya Nisin Sunito, pemilik peternakan ‘raksasa’ di Darwin, Australia. Juga, pemilik dari Oceanic Multitrading Pty Limited. Perusahaan yang bergerak di bisnis peternakan, impor kertas, limbah kertas, dan bisnis properti. Adiknya, Iwan Sunito, pengusaha properti sukses di Sydney. CEO Crown International Holdings Group yang kini gencar menawarkan apartemen mewah di negara itu.

Apalagi kalau di dunia hiburan. Orang Indonesia banyak “sukses” di negara orang. Misalnya, sebagian animator film laris dunia seperti The Avengers itu, ternyata anak Indonesia. Sebut saja Ronny Gani (29), yang bekerja di perusahaan penghasil film Star Wars, Back to The Future, Jurassic Park, Eragon, Avatar, dan banyak lagi.

Panggung-panggung audisi pencarian bakat di luar negeri juga menampilkan orang Indonesia. Seperti di Britain Got Talent. Artis-artis Indonesia juga rame-rame berkiprah di dunia lain. Hollywood misalnya. Ada yang jadi sutradara di sana, pemain film, penyanyi, model hingga artis porno (ups!). Penyanyi Anggun C Sasmi yang dulu WNI, lalu jadi penyanyi ber-WN Perancis (meski tetap cinta (uang) Indonesia, laris seliweran di iklan televisi sini).

Jadi, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Indonesia dan negara-negara lainnya, hampir-hampir sudah tidak khas. Orang bule bertebaran di sana-sini. Orang Arab ada di mana-mana. Orang China ada di berbagai belahan dunia. Orang kulit hitam juga tak lagi hanya menghuni Afrika. Pokoknya sudah campur baurlah.

Maka, dunia itu sejatinya sempit saja. Orang berlalu-lalang antarnegara, bahkan antarbenua semakin biasa. Semakin mudah. Maka alangkah enaknya, jika manusia yang bertebaran di muka bumi ini bisa bebas melenggang ke mana-mana dengan mengaggap dunia ini adalah rumahnya sendiri. Rumah besar, yang sejatinya sempit saja.

Karena, manusia modern (dan ber-uang barangkali), rupanya juga tidak cukup punya satu negara. Contohnya Pak Beye itu, pernah bilang, Amerika Serikat adalah rumah keduanya. Pak Habibie juga, Jerman itu sudah seperti rumahnya sendiri. Entah, mereka berpaspor ganda atau tidak, saya tidak tahu.

Yang jelas, alangkah enaknya kalau ke mana-mana itu tidak perlu birokrasi lebay. Jika perlu tanpa paspor, misalnya. Apalagi sampai ganda. Traveling, studi, berkarier, atau kerja di mana saja. Merantau, transmigrasi, mengungsi, mencari tanah kehidupan baru, suka-suka ke mana sajalah. Karena, seluruh tanah yang ia pijak miliknya. Tanah airnya. Satu kesatuan. Mau balik kampung lagi, mudik, juga bebas.

Hah, mana mungkin? Mungkin saja, kalau seluruh negara bisa bersatu dalam satu institusi. Satu negara. Satu rumah besar. Satu saudara. Emangnya bisa? Sejarah belum pernah, sih. Eh, mungkin pernah dunia tanpa paspor. Bukankah ketika dunia hanya dihuni Adam dan Hawa, jumlahnya cuma satu?

Adam tentunya tak perlu paspor untuk berkeliling bertahun-tahun menemukan Hawa; setelah mereka terusir dari surga. Lalu Adam dan Hawa yang konon hidup selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3.760-2.830 SM), beranak-pinak melahirkan seluruh anak-cucu-cicit- hingga menjadi miliaran manusia sekarang.

Well, jadi sejatinya seluruh manusia ini satu keluarga besar, bukan? Maka, seharusnya tinggal di satu rumah besar pula. Satu negara besar. Satu aturan besar. Tak ada yang mustahil. Lagipula, satu fakta lagi, bahwa dunia hampir seluruhnya menyatu, itu pernah terjadi.

Dalam sejarah (yang sengaja dikaburkan dunia), pernah tegak sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah yang wilayahnya sempat mencapai 2/3 dunia. Mesir, Arab Saudi, Irak, Iran, Turki, Spanyol, negara-negara bagian Rusia, bahkan kerajaan-kerajaan di Indonesia itu, pernah bersatu sebagai satu negara besar.

Saat itu, hanya ada dua kemungkinan. Apakah dia pemegang paspor negara Islam atau paspor negara kufur. Nah, ini masalahnya. Kalau sudah istilah Islam-kufur, manusia modern kerap alergi. Ngeri-ngeri sedap. Orang muslim sendiri disodori istilah inipun, tak sedikit yang merasa ngeri. Maka, ketika ada gagasan untuk menyatukan dunia, dan meruntuhkan batas-batas national state, bukan main penentangannya. Mustahillah. Khayali. Imposible.

Kalau saya sih, setuju-setuju saja. Saya membayangkan, nanti bisa jalan-jalan ke Singapura, Malaysia atau Brunei tanpa perlu paspor. Karena, kan sudah satu negara. Apalagi bisa ke Mekah, Madinah, Istambul atau Kairo. Wow! Negeri impian itu, kini jadi negara saya (Asal punya uang tentunya, hehehe…)

Saya tidak berkhayal (meski belakangan ini sering baca novel fantasi hehe…). Sudah banyak sebenarnya yang meramalkan, dunia ini sedang berjalan dari nation states menuju stateless nation. Sekarang saja, sudah jutaan orang yang tak punya kewarganegaraan, meski mereka menginjak bumi. Seperti para pencari suaka, pengungsi atau korban perang yang terlunta-lunta itu.

Maka, kelak, negara-negara dengan batas-batas nasionalisme itu akan capek sendiri dengan aturan-aturan nation states yang mereka buat sendiri. Aturan yang selama ini juga banyak dilanggar sendiri. Akhirnya mereka akan mengamandemen sendiri (Seperti aturan soal paspor itu. Kok bisa ada WNI berpaspor ganda? Pasti ada aturan yang dilanggar, kan?)

Sekarang saja, berbagai hal yang menghambat hubungan dua atau beberapa negara sudah banyak yang dianulir. Entah melalui perundingan bilateral. Forum tingkat regional, level benua hingga internasional.

Forum-forum itu sejatinya selalu membahas, bagaimana supaya hubungan antarnegara kian dekat. Kian mudah. Kian erat. Kian saling menguntungkan (walau faktanya, karena penguasa dunia adalah negara kapitalis, akhirnya watak penjajahan yang terjadi. Negara kecil dijajah melalui rekomendasi yang seolah-olah win-win solution).

Nah, hasil akhir dari forum-forum itu antara lain penghapusan bea cukailah, penghapusan visalah, kemudahan investasilah, dll. Menipiskan sekat-sekat. Menghapus nasionalisme itu sendiri. Termasuk, orang juga semakin mudah menghapus nasionalisme di dadanya. Pindah kewarganegaraan lain, misalnya. Bahkan, orang-orang yang dicap paling nasionalis sekalipun, tanpa malu-malu begitu mudahnya “mengkhianati” tanah airnya.

Contoh sedikitnya berikut ini:

Ada empat atlet bulutangkis Indonesia yang pindah warga negara: (1) Tony Gunawan, pahlawan Indonesia saat meraih medali emas di Olimpiade 2000. Hanya selang dua tahun, Tony secara permanen menjadi warga negara Amerika Serikat. Jadi pelatih sekaligus pemain di sana.

(2) Mia Audina, peraih medali perak di Olimpiade Atlanta 1996 untuk Indonesia. Sekitar 8 tahun kemudian, Mia kembali meraih perak di Olimpiade, tapi untuk negara barunya, Belanda. (3) Halim Haryanto, eks pasangan Tony Gunawan saat juara dunia ganda putra 2001 juga mengikuti jejak Tony, membela bulutangkis AS sejak 2005.

(4) Albertus Susanto Njoto, Juara Ganda Putra Filipina Terbuka 2006 saat berpasangan dengan Yohan Hadikusuma itu pindah kewarganegaraan Hongkong dengan alasan persaingan untuk masuk pelatnas bulutangkis Indonesia terlalu berat. Nah, ke mana nasionalisme mereka?

Yang tak kalah mencengangkan, Miss Indonesia 2006, Kristania Virginia Besouw, kini menjadi tentara di Amerika Serikat. Di ajang Miss World 2006 di Polandia, dulu berbikini berselempang Indonesia, (katanya) membela tanah air mati-matian (dan cuek dengan maki-makian), sekarang mengangkat senjata membela AS. Duh! Mana doktrin nasionalismenya? Manaaaa?

So, nasionalisme bersekat negara itu terbukti absurd. Sangat lemah. Mudah saja ditanggalkan. Mana takut. Mana peduli. Jangankan “berkhianat” pada negara, berkhianat pada Tuhan pun sanggup. Karena, Tuhan manusia saat ini adalah “uang”.

Tetapi, apakah benar mereka memang “pengkhianat”? Mungkin saja yang mereka harapkan sebenarnya sederhana: di mana saja tinggal di muka bumi ini, asal perut terpenuhi, di situlah saya mengabdi. Karena, fitrah manusia itu –muslim maupun nonmuslim, dulu, sekarang atau nanti– tetap sama: yang penting bisa hidup nyaman dan tenteram. Terpenuhi kebutuhannya. Tak lagi peduli lahir di mana dan harus membela negara apa.

Tentunya, sebagai muslim, poin tambahannya adalah: bisa ibadah dan menjalankan aturan-Nya secara kafah demi mencapai ridho-Nya. Bukan semata-mata bertuhankan uang. Tetapi, membela Islam. Negara Islam.

Karena, muslim benar-benar percaya pada Allah SWT sebagai Pencipta bumi yang cuma satu-satunya di jagat ini. Yakin, Allah menurunkan aturan yang juga satu-satunya untuk dunia yang juga cuma satu ini.

Walau aturan yang satu ini selalu multitafsir di tangan manusia, tetapi di tangan pemimpin yang benar, sistem yang benar, setidaknya manusia tidak membutuhkan berbilang aturan. Karena, alangkah mustahilnya jika Allah tak sanggup membuat aturan untuk dunia, yang tentunya hanya selebar daun kelor ini di mata-Nya, bukan?

Penulis: Asri Supatmiati

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

mendidik-anak
“Untuk Mendidik Seorang Anak, Butuh Orang Sekampung”
bahaya-smartphone
Waspadai Masalah Kesehatan Akibat Ketergantungan Smartphone!
aksi-bela-islam
Kronologi Kejadian Aksi Bela Islam II pada 4 Nov 2016 Resmi dari GNPF MUI
irena-handono
Terkait Penistaan Al-Qur’an, Umi Hj. Irena Handono Menulis Surat Terbuka Untuk Presiden dan Kapolri
israel-kebakaran
Kebakaran di Israel dan Tafsir Surat Al-Fajr
arisan
Hukum Arisan Dalam Islam
memukul
Kebolehan Memukul Istri dan Anak Sebagai Ta’dib
pasar-islam
Mal dan Fasilitas Dagang dalam Islam
mencintai-allah
Ya Allah Aku Mencintai-Mu, Walaupun Aku Bermaksiat Kepada-Mu…
kebakaran-israel
Hikmah Dibalik Kebakaran Dahsyat di Israel
memuji
Bolehkah Memuji Seseorang?
firaun
Azab Bagi Mereka yang Meniru Perilaku Fir’aun
nasehat-pasutri
Nasehat Pasutri Agar Kokoh Perkawinan
bunga-layu
Mengingkari Kebaikan Suami, Salah Satu Penyebab Terbanyak Wanita Masuk Neraka
keluarga-islami-2
Nasehat Rasulullah Agar Pernikahan Dipenuhi Keberkahan dan Kebahagiaan (Part 2)
keluarga-sakinah
Nasehat Rasulullah Agar Pernikahan Dipenuhi Keberkahan dan Kebahagiaan
anak-lucu
Kebutuhan Memahami Anak Usia Dini
mencium-bayi
Ini Alasan Sebaiknya Tidak Mencium Bibir Anak
kejujuran-anak
Mengokohkan Kejujuran Dalam Diri Anak
anak-laki-laki
Membangun Karakter Anak Laki-Laki
kamera
Jaga Aurat di Depan Kamera
selfie-muslimah
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
sosmedia
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
alay
Era Gadget Ciptakan Generasi Alay, Generasi Lalai
sepatu
Karena Ukuran Kita Tak Sama
muslim-ummah
Ilmu Sanad, Hanya Dimiliki Umat Islam
fetih1453_15
Shalat Jum’at di Jalanan Bid’ah ? Mari Tengok Sejarah !!
cosmos-chocolate
Wanita dengan Kataatan Seharum Parfum
profil-muhaimin-iqbal
The Age of Deception
obesitas
Apa yang Menjadi Penyebab Obesitas?
kentut
Sering Kentut, Ini Penyebab, Diagnosa dan Pencegahannya
perut-keroncongan
Perut Keroncongan Belum Tentu Karena Lapar
cara-menyapih-anak
7 Tips Menyapih Anak
daging-kurban
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
menghafal
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
menghafal alquran
Cara Cepat Menghapal Al Quran Dengan 15 Menit
resep-kue-ketan-isi-mangga
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
resep-lumpia
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
wedang-bajigur
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin
klepon
Klepon Yummy