Birrul Walidain

MuslimahZone.com – Al Birr bermakna kebaikan. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda: “Al Birr adalah baiknya akhlaq.” (HR. Muslim)

Sehingga Birrul Walidain berarti berbuat baik kepada kedua orang tua, menjauhi apa-apa yang tidak mereka sukai, serta mentaati mereka selama tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah.

Hukum Birrul Walidain      

Para ulama sepakat bahwa hukum Birrul Walidain adalah fardhu (wajib) bagi setiap individu.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uf (ah)” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (QS. Al Israa’: 23 – 24)

Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini menunjukkan betapa besarnya hak ibu-bapak. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pemeliharaan kedua orang tua yang telah memasuki usia lanjut merupakan tanggung jawab sang anak. Sang anak pun dilarang mengucapkan keluhan atau keengganan secara halus, apalagi kata-kata kasar secara langsung. Sang anak harus rendah hati terhadap keduanya dan mendoakan keduanya baik semasa hidupnya mereka ataupun sesudah meninggalnya.

Keutamaan Birrul Walidain

Pertama: Merupakan salah satu bentuk peribadatan kepada Allah

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An Nisaa’: 36)

Dalam ayat ini, kalimat berbuat baik kepada ibu-bapak merupakan kalimat perintah (menunjukkan kewajiban), posisinya pun terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan Allah.

Kedua: Sebagai salah satu bentuk bersyukur kepada Allah

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam (selambat-lambatnya) dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Imam Adz Dzahabi dalam kitab Al Kabaair, terkait dengan ayat di atas, menyebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata: “Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, maka tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu.”

Ketiga: Termasuk amalan yang paling mulia

Dari Abdullah bin Masud, dia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah? Bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam: “Shalat tepat pada waktunya.” Saya bertanya: Kemudian apa lagi? Bersabada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam: “Berbuat baik kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi: Lalu apa lagi? Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat: Sebagai salah satu amal shalih yang dapat menjadi sarana tawassul

Tawassul adalah melakukan segala bentuk ketaatan yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Beberapa contoh tawassul yang dibolehkan antara lain melalui asmaul husna, shalawat, meminta didoakan oleh orang shalih yang masih hidup, dan melalui amal shalih.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang tiga orang yang melakukan perjalanan, lalu kehujanan, dan mereka berteduh pada sebuah gua di kaki gunung. Namun tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Kemudian mereka berdoa kepada Allah dengan bertawassul menyebutkan amal terbaik yang pernah mereka lakukan. Salah satu diantara mereka berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana biasanya. Kemudian aku mendatangi keduanya namun mereka masih tertidur pulas sedangkan aku tidak tega untuk membangunkannya. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Susu tersebut tetap aku pegang hingga fajar saat orang tuaku bangun, lalu aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya perbuatan tersebut ialah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutup ini. Maka dengan doa tiga orang tersebut terbukalah batu yang menutupi gua. (HR. Muslim)

Kelima: Anak lelaki satu-satunya dalam keluarga lebih diutamakan untuk menjaga orang tuanya daripada pergi berjihad

Pernah seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu, yaitu Jaahimah, datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasihat pada anda.” Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Apakah kamu masih memiliki Ibu?” Berkata dia: “Ya.” Bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam: “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu di bawah telapak kakinya.” (HR. Nasai dan Ahmad)

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta ijin kepadanya untuk ikut berjihad. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Dia menjawab: “Ya.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Berjihadlah (dengan berbakti) pada keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keenam: Merupakan salah satu sebab keridhaan Allah

Rasulullah ShalallahuAlaihi Wassallam bersabda: “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Ketujuh: Termasuk sebab masuknya seseorang ke surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Celaka, celaka kemudian celaka. Kemudian ada seseorang yang bertanya: Siapakah dia (yang celaka) ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Kedudukan Ibu Dibandingkan Ayah

Birrul Walidain berlaku terhadap ibu dan bapak. Namun hendaknya bakti terhadap ibu lebih besar daripada terhadap ayah. Karena ibu telah banyak berkorban sejak dari masa mengandung.

Dari Al Mughirah bin Syubah, dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi (bakhil) tetapi meminta-minta. Dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu bertanya: “Ya Rasulullah! Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Bapakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

(detikislam.com/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Allah SWT ‘Menyadap’ Kita
Level Fardhu Kifayah
Hukum Menghina Ulama
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Republik Hoax
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Contoh Saja (Masih) Belum Cukup
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Cara Sederhana Membersihkan Tubuh Dari Racun
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa Nikmat
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga
Lumpia Crispy Isi Bengkuang
Wedang Bajigur, Minuman Hangat Saat Cuaca Dingin